Lips are turning blue
A kiss that can’t renew
I only dream of you
My beautiful
Tip toe to your room
A starlight in the gloom
I only dream of you
And you never knew
Sing for absolution
I will be singing
And falling from your grace
There’s nowhere left to hide
In no one to confide
The truth burns deep inside
And will never die
Our wrongs remain unrectified
And our souls won’t be exhumed
*sing for absolution, by muse
I can’t stay now, I’m just wait now
My hand they grow so impatient
Many things I’ve got to do now
for the first ray of the morning
Though he dreams in peacefull slumber
Sleep to me just doesn’t come
When he wakes I’ll try to tell him
Everything I’ve to say
And the night so dark inside me
Makes me finally understand
Whime the love that he has given
he can light the sky forever
It’s the way he gives so freely
It’s the way he takes my hand
I’ll just ask the sunshine brightly
Got to see him smile again
Then I’ll sing the song I’ve written
And I’ll make the whole world listen
In the silence just for you
Like no one has ever heard
And I’ll wake up all the lovers
And I’ll keep them back for hours
And we’ll do the things we’ve wanted
The way that lovers do
Then we’ll run to the street
And we’ll start to dance like crazy
Though he wants only to feel joy
It’s the love he give and need
And we’ll take me tab of chorus
And we’ll paint the street and building
Rainbow colors everyone
Though he wants colors to see
And we’ll take all field of flowers
Make the street alive with spring
Make the place whime lovers go
To love the way like lovers do
Then we’ll fly to the sky
And we chose we trought the stars
And our stars will tell the whole world
The love we had, we are …
The love we share is sweet
The love we know is real
That love is not a dream
but last a life time long
Because your love and mine we give
Without gleaming holdng in
And love that we have given
Return to ask the wind
Cause your love for me
Is not beginning and the end
Your love and mine is now
for me … forever
***Just For You by Richard Cocciante, dengan perubahan pada kata pengganti orang ketiga tunggal
"PLak!!!!" Panas rasanya tamparan itu mendarat di pipiku. Tanganku yang dingin merabanya, tapi rasanya masih panas sekali. Aku menatap Mama tanpa kedip, lelehan air mata tak terasa mengalir deras. Rasanya aku ingin menangis, tapi rasa kecewa dan ketidakmengertian membuat yang keluar dari mulutku malah teriakan marah.
"Kenapa sih, Mah??? Kenapa Mama siksa Vie terus kayak gini? Salah Vie apaaaa?"
Wajah Mama tampak memerah, aku bahkan bisa mengandaikan semburan api mungkin bisa saja keluar dari mulutnya saat ini. Tapi dia diam tak berkata apa-apa. Hanya nafas nya yang terlihat semakin memburu.
Untuk sekejap aku hanya bisa mendengar nafasku dan nafasnya yang sama-sama terengah. Kamarku yang sempit rasanya semakin panas oleh bau kemarahan ini.
Tiba-tiba kulihat dia mengambil sapu yang terletak di pojok kamar, dan tangannya yang tua namun kekar oleh zaman itu dengan cepat mengayunkan sapu bergagang kayu itu ke kakiku. Aku menjerit kesakitan.
Dan Mamapun semakin membabi buta. Awalnya kaki. Lalu paha, kemudian tangan, hingga badanpun tak luput dari serangan Mama dan sapuku. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Dasar anak kurang ajar! Tak tahu diuntung!!Kamu mikir kamu siapa berhak bentak-bentak ibumu seperti itu!"
Aku menangis, dan berlutut, hampir mencium kakinya. Memohon ampun. Mama tidak berhenti. Serangannya semakin menggila.
"Anak biadab!Tahu begini,aku biarkan saja kau mati sejak di kandungan!Anak setan!"
Aku masih meringkuk di kakinya. Masih menangis memohon ampun. Punggung dan lenganku semakin panas merasakan kerasnya gagang sapu itu yang memukul bertubi-tubi.
Semakin keras, semakin sering, dan semakin berulang-ulang.
Terus berulang-ulang hingga rasanya tak pernah berhenti.
Terus berulang-ulang hingga rasanya aku sudah tak merasakan sakitnya. Terus berulang-ulang ..
Terus berulang-ulang..
"Ampuni aku, Mama.." Isakku hampir tak bersuara.
——————————————————————————– You can dance. You can jive, having the love of your life ..
Dering bernada Dancing Queen milik Abba terdengar di ponselku.
AKu teringat Papa. Abba adalah grup musik favoritnya. Dulu sekali, setiap akhir pekan, dia akan memutar lagu itu dan mengajakku berdansa dengannya.
Kata Papa aku adalah Dancing Princessnya, yang suatu saat akan menjadi Dancing Queen-nya" Biasanya aku akan tertawa malu mendengarnya. KUbayangkan seorang dancing princess ataupun dancing queen adalah puteri atau ratu yang cantik mengenakan gaun indah dan mahkota permata. Dan aku sungguh bangga diberikan ‘gelar’ itu oleh Papa.
Bayangan tentang papa terus merayap di sela otakku hingga ku tak sadar, ponselku sudah berdering lima kali. Kudiamkan ponselku hingga deringnyapun terdiam sendiri.
Aku masih meringkuk di lantai, tak memiliki keinginan untuk bergerak bahkan mungkin untuk bernafas. Bekas pukulan sapu tadi tak menyisakan tenaga untukku. Aku cuma bisa meringkuk, dan berangan. Seandainya Papa masih ada, ini tak akan terjadi.
Seandainya Papa masih ada, Mama takkan marah seperti ini. Seandainya Papa masih ada, dia akan mengerti.
Seandainya Papa masih ada..
Papa, aku kangen kamu..
Tanpa sadar lelehan air mata hangat kembali mengalir.
You can dance..You can jive..
Ponselku kembali berteriak. Aku diam. Berharap deringnya akan mati sendiri seperti tadi.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Sayup di sebelah kamar ku dengar suara Mama yang sedang mengaji. Mungkin dia sedang mencuci dosa-dosanya. Ah, tidak pikirku. Surga itu ada di telapak kaki ibu,apa mungkin seorang ibu bisa berdosa. Aku yang seorang anak hanya boleh menerima apapun perlakuannya. Karena dia yang melahirkanku. Dia yang berhak atas diriku. DIa yang berhak atas hidupku dan juga pilihanku.
Pikiran-pikiran itu memaksaku untuk bangkit dan mengambil ponsel di meja. Kutekan tombol berwarna hijau. Serta merta diujung saluran suara Ferdy terdengar.
"Vie? Vie? Kamu gak apa-apa?" AKu terdiam.
Sekali lagi mengumpulkan tenaga, untuk berbicara.
"Vie..? Vieee!Jawab aku, kamu gak apa-apa kan?" Suara Ferdy terdengar begitu penuh kekhawatiran, dan itu membawa perasaan hangat, membuat aku secara tak sadar terisak.
"Vie..?"
Ferdy mendesakku untuk berbicara, "Please, say a word to me!"
AKu menarik nafas panjang, "Ya,Kak?". Sebuah bisikan yang harus kuperdengarkan demi mencegah Mama mendengarnya.
"Vie, kamu diapain? Tadi Kakak telpon ke rumah, sekilas ada suara Mamamu berteriak-teriak. Tadi Kakak mau bicara sama Vie, tapi Mbak Dian bilang kamu sudah tidur" AKu terdiam, tentu saja Mbak Dian tak akan berani mengadukan apa yang terjadi sesungguhnya. "Vie, kamu diapain?"
"Ngga, Kak. Vie gak diapa-apain." Aku tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya sekarang. Selain tak ingin Mama mendengar, aku juga tak punya cukup tenaga. Kudengar suara helaan nafas Ferdy di ujung saluran.
"Ya, sudah. Kamu yakin, Vie?" Tak sadar aku mengangguk mengiyakan. Helaan nafasnya terdengar lagi.
"Oke, kalo gitu. Besok kita ketemu di tempat biasa ya, Vie. Kakak pengen ketemu sama kamu. Kita bicarain semuanya yah"
"Oke" AKu menyahut pelan.
"Baik sayangku, met bobo yah, i love you!"
Tanpa mengucapkan sepatah kata, kutekan tombol merah di ponselku.
——————————————————————————– Ferdy adalah sahabatku. Juga kekasihku, juga belahan jiwaku. Kami tumbuh besar bersama, keluarga kamipun sudah sedemikian akrabnya hingga pada saat Papa meninggal, Om Cahyo alias ayah Ferdylah yang sibuk membantu Mama mengurus segalanya. Akupun sudah seperti anak sendiri bagi orang tua Ferdy.
Awalnya aku lebih sering bermain bersama Ani, adiknya. Itulah sebabnya hingga sekarang aku memanggil Ferdy dengan sebutan kakak. Karena dia, juga sudah seperti kakak bagiku.
Tapi seiring bertambahnya usia, dan semakin dewasanya pemikiran, maka benih-benih itupun tumbuh di antara kami. Benih yang membuat hatiku terpagut pada hati nya. Yang membuat kehadirannya menjadi candu bagiku, dan yang membuat hidupkupun berpusat hanya kepadanya.
Tapi siapa sangka, perasaan yang sedemikian indah dan membuat aku dan Ferdy bahagia itu, justru memporakporandakan hubungan Mama dan keluarga Ferdy.
Entah kenapa, Mama tidak suka mengetahui aku dekat dengan Ferdy. Dan ketidaksukaannya dengan jelas ia tunjukkan kepada semua orang. Mama menunjukkan sikap bermusuhannya terhadap orang tua dan keluarga Ferdy. Mama bahkan dengan lantang menghina Ferdy setiap kali ada kerabat lain yang membicarakan hubungan kami.
Dan sasaran permusuhan Mama yang paling jelas, tentu saja adalah aku. Makian, hinaan dan pukulan seperti tadi sudah sering aku terima sejak Mama tahu soal hubunganku dengan Ferdy.
Anehnya, Mama tidak pernah menjelaskan kepadaku kenapa dia tidak menyukai Ferdy yang dulunya sangat sering membantu Mama mengerjakan pekerjaan laki-laki di rumahku. Mama hanya mengatakan tidak suka, tidak suka dan tidak suka. Mbak Dian pernah bilang kalau mama hanya tidak ingin hubungan dekat antara keluarga kami dan keluarga Ferdy jadi retak hanya karena hubungan cinta kami.
Tapi aku tak mengerti, jika demikian, mengapa malah Mama yang merusaknya dengan sering kali menghina Ferdy hingga membuat keluarga Ferdy jadi sakit hati.
Ah, aku memang tak pernah bisa mengerti Mama.
Demi menekankan ketidaksukaannya itu, Mama bahkan tidak sungkan mendaratkan pukulan-pukulannya itu kepadaku.
Dan aku, akupun semakin lupa diri.Mungkin benar seperti kata pepatah, semakin digenggam, maka semakin terburai. Begitu pula yang aku rasakan terhadap Ferdy. Semakin Mama melarang, semakin gila aku terhadapnya.
Semakin sering aku mencari-cari kesempatan untuk bisa bersama Ferdy. Bolos kuliah dan diam-diam bertemu Ferdy di mall sudah menjadi rutinitasku. Otak, pikiran, hati dan tubuhkupun semakin menjerit mencandu Ferdy.
Dan malam ini, di tengah sakit yang mendera tubuhku, aku memprasastikan satu tekad di hatiku.
Akan kutunjukkan pada Mama, seberapa banyak aku mencintai Ferdy. Akan kutunjukkan pada Mama, bahwa cintaku kepada Ferdy, tak bisa dibayar ataupun dibeli dengan pukulan dan makian itu.
Akan kutunjukkan padamu, Mama.
——————————————————————————– "Kamu yakin, Vie?" Ferdy berucap lembut.
Tatapan matanya yang tajam, tampak syahdu menelusup jauh ke dalam jendela hatiku. Dari balik tubuhnya kulihat jendela kaca di belakangnya mempertontonkan layar biru kelam dengan taburan bintang di sekelilingnya. Sayup kudengar suara aliran air sungai di bawah kamar yang kami tempati. Bau udara gunung menyisip masuk melalui lubang -lubang udara di kamar yang kami sewa.
Aku menarik nafas panjang dan membalas tatapannya. Lalu tersenyum.
"Iya, Kak! Vie yakin." Saat itu kami masih duduk di tepi ranjang empuk kamar berukuran empat kali empat itu. Tangan kami saling menggenggam erat, seolah-olah berusaha meredam gemuruh jantung yang kami rasakan saat itu.
Dengan lembut Ferdy mencium tanganku. Bibir kenyalnya yang menyentuh kulit tanganku membawa perasaan tersengat yang luar biasa pada diriku. Padahal ini bukan pertama kali aku merasakan bibirnya. Entah sudah berapa puluh kali bibir kami saling bertaut mesra, entah itu di gedung bioskop yang gelap, atau hanya di ruang tamu Ferdy yang selalu sepi dan hanya diterangi temaram lampu berwarna kuning.
Tapi kali ini, entah kenapa sentuhan bibirnya mampu membuatku merasa seperti yang kurasakan saat pertama ia menciumku dulu. Bahkan lebih.
Entahlah, mungkin karena tempatnya, mungkin juga karena suasanyanya.
Atau mungkin hanya diriku saja yang terlalu berdramatis mengetahui bahwa ciuman kali ini , akan berujung pada hal yang berbeda.
Ferdy mulai menciumku, dengan lembut dengan mesra. Aku bagai terbang ke bulan. Sekilas bayangan Mama dengan gagang sapunya berkelebat di benakku. AKu menciumnya semakin bernafsu. Dengan pelan Ferdy membuka kancing di blusku.
AKu tak menyangka dia selihai itu membuka kancing. Tata busananya saat sekolah pasti mendapat A. Harusnya Mama bangga akan Ferdy.
Pikiranku makin mengembara, dan membuatku merasa harus meraih kaosnya dan melepaskannya dari tubuh kekar itu. Dan saat dia membaringkan tubuhku serta mulai mencumbunya, akupun hampir lupa di mana aku berada dan alasan apa yang tadi kuberi pada Mama hingga aku bisa berada di sini.
Ah, Indah!
Ya, aku bilang pada Mama aku pergi bersama Indah dan keluarganya. Indah sendiri yang membantuku bicara pada Mama tadi siang.
Wait a minute, bukan Indah. Tapi Sandra, oh atau aku lupa bilang pada Mama..
Dan..OOhhh Oh, cumbuan ini terasa begitu nikmat..
Nikmat yang tiada tara dan membuatku ingin menangis.
Lalu tiba-tiba terhenti.
Tubuh Ferdy kini berada di atasku. Dan wajahnya menatapku dengan penuh sayang, tangan kekarnya mengelus wajahku.
"Kamu siap, Vy?" SUaranya terdengar bergetar di telingaku.
Aku mengangguk dan berbisik, "I love you,Kak"
Ferdy menciumku, dan semenit kemudian, yang aku rasa hanya sakit yang luar biasa dan kenikmatan yang tak ada tara.
——————————————————————————– Pantai ini indah sekali. Lautnya begitu bening, pasirnya begitu putih. Anginnya pun menambah rasa nikmat berada di sini, rok dan rambutku melambai dengan gemulainya.
Kulihat Ferdy berlari ke arahku, ah rasanya aku ingin berlari juga, tapi tidak aku tunggu saja dia di sini.
Aku menunggunya dengan hati membuncah penuh kebahagiaan, rasanya cinta ini membuat aku seperti di surga.
Artinya bohong, surga tak ada di telapak kaki ibu, tapi ada di hatiku dan Ferdy. Ah aku tak mau mengingat soal ibu ataupun Mama.
Aku mengusap wajahku mencoba melepaskan pikiran soal Mama. Kutatap lagi Ferdy yang sedang berlari ke arahku.
LOh, itu bukan Ferdy.
Itu Mama sedang berlari dengan marah ke arahku. Dadaku bergemuruh ketakutan, aku tak mau Mama memukulku.
Aku berlari kencang, kencang sekali.
Lalu sayup kudengar lagu Abba itu, ah apakah Papa di sini?
Aku harus berlari menemui Papa, dia pasti mau membantuku.
Suara lagunya makin keras, makin kencang, itu artinya Papa ada di dekat sini.
Papa..! Papa..!
Aku membuka mataku, dan mengerjap-ngerjapkannya.
Mencoba mengenali suasana kamar tempat aku berada.
Dadaku bergemuruh, akibat mimpi tadi dan akibat melihat Ferdy tampak tidur bertelanjang dada dengan nyaman disebelahku. Ponselku atas meja, dering Dancing Queen-nya lah yang rupanya tadi membangunkan aku.
Aku menatap nomor yang muncul di layarnya. Nomor kakakku. Aku ragu, apakah harus kuangkat atau tidak. Akal sehat memaksaku mengangkatnya.
"Vivie!!!" Diujung saluran kudengar suara Mbak Dian tidak seperti biasanya. Dia menangis terisak-isak, entah kenapa perutku terasa begitu perih.
"Vivie, cepet pulang Vie!Mama masuk rumah sakit, tadi jatuh di kamar mandi!"
Kakiku mendadak lemas, dan dunia terasa gelap bagiku
——————————————————————————– Aku duduk di kamar Mama. Sebagian tamu dan kerabat yang membantu pemakamam sudah pulang. Hanya beberapa saudara dekat dari Mama dan Papa yang ada berseliweran.
Tanpa sadar aku membuka laci meja rias Mama. Beberapa perlengkapan riasnya yang masih menyisakan aroma dirinya tersebar di kamar. Di selain perlengkapan rias, aku melihat foto kami sekeluarga sewaktu masih ada papa.
Dulu kami bahagia sekali.
Aku menangis.
Aku merogoh ke dalam laci lagi.
Secarik kertas kutemukan di dalamnya. Kertas yang warna dan bekas lipatannya sudah demikian usang dimakan usia.
KUbuka lipatan kertas dengan hati-hati. Aku sedikit tersentak demi melihat ada tulisan papa di sana.
Kubaca tulisan demi tulisan, dengan perasaan campur aduk yang membuat tubuhkupun bergetar.
Satu baris paragraf membuatku lemah tak berdaya.
"Mama, papa sudah memaafkanmu. Perselingkuhanmu dengan Cahyo sudah Papa maafkan dan Papa anggap tak pernah terjadi. Buah kesalahan itu, yang sekarang ada di perutmu, biarlah kita besarkan bersama. Tak usah kau ingat-ingat bahwa itu adalah anak Cahyo, dan tak perlu pula kau katakan kepadanya. Kita simpan dan kubur kejadian ini dalam-dalam. Yang sekarang harus kita lakukan adalah, menyambut bidadari baru yang ada di perutmu sekarang, dan menjadikannya bidadari kecil kita, dan teman kecil Dian, anak kita"
Aku melihat tanggal yang tertera di dalam surat.
Tanggalnya hanya berbeda tiga bulan dari tanggal lahirku.
TUbuhku lemas, jantung dan aliran darahku seperti tidak bekerja lagi. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
——————————————————————————– AKu sudah membayar harga cintaku sekarang.
Dengan membohongi Mama.
Dengan mengingkari keinginan Mama, yang sesungguhnya hanya ingin menjauhiku dari sebuah dosa yang teramat besar.
Dengan mengkhianati Mama tanpa pernah mengucapkan maaf kepadanya
Aku menatapnya. Dirinya terlihat begitu jauh. Aku hampir tak dapat menyentuhnya. Dia duduk terpekur di sana, hampir hilang.
Limbahan air mata menetes deras dari mata tajamnya.
Pendaran luka tampak terpampang pahit dari mata yang dulu begitu menawan ku itu.
Aku tak mampu mengatakan apa-apa. Aku bahkan tak sanggup menundukkan hati meminta maaf kepadanya. Aku menyakitinya, aku tahu itu.
Tapi diapun menyakitiku, begitu suara egois dalam hatiku berbicara.
Tapi aku tahu, aku cuma bersikap defensif, itu saja.
Ah, seandainya manusia tidak memiliki sifat egois. Mungkin aku masih mampu bersamanya.
"Sampai kapanpun aku akan mencintaimu" Dia menatap wajahku, berusaha tersenyum saat mengatakan itu. Aku mengangguk, tersenyum. Berharap senyumku mampu memberikan sedikit kekuatan bagi dirinya.
Tapi itu tak berarti aku percaya kata-katanya. Aku bahkan tak percaya kata-kataku sendiri saat ini.
"Boleh aku kecup keningmu?Sebagai tanda perpisahan mungkin?"
Suaranya begitu lemah. Aku tahu dia begitu sedih. dan sangat membenci perpisahan ini. Akupun tidak menyukai perpisahan. Tapi aku sudah mengalaminya berkali-kali.
Jadi bagiku, perpisahan hanyalah suatu fase di mana akan adanya perjumpaan yang lain.
"Bolehkah?"Dia kembali bertanya.
Akupun mengangguk, tersenyum lemah. Berusaha menunjukkan kepadanya bahwa ini berat juga bagiku.
Tapi mungkin dia akan berfikir, akulah yang meminta ini, jadi aku pasti mampu menghadapinya.
Tapi yang seharusnya dia tak tahu, saat ini aku bahkan tak tahu apa sebenarnya yang aku inginkan.
Namun, ku biarkan dia mencium keningku. Ciuman yang lembut, namun terasa begitu lemah. Tak disangka air mataku ikut menetes deras.
Untuk apa air mata itu, Akupun tak mengerti.
Padahal aku yang meminta perpisahan ini.
Dulu aku sangat mencintainya. Mungkin sekarangpun masih. Sosok ceria yang selalu membuatku tertawa. Sosok ceria yang menghiburku saat kepergian almarhum ayah. Sosok ceria yang memberikan jiwa kepadaku saat ku merasa kesepian.
Kami pergi ke sekolah yang sama.
Mengerjakan segalanya bersama, dan hampir selalu bersama. Semua orang menganggap cinta kami cuma cinta sementara. Cinta sepasang anak berusia tanggung yang tak akan kekal dimakan zaman.
Aku tak percaya omongan mereka. Bagiku, dia adalah segalanya.
Aku selalu yakin bahwa dialah yang akan menjadi suamiku, pendampingku, ayah dari anak-anakku kelak.
Dialah takdirku.
Dan siang itu, di sebuah kamar kosong milik seorang teman, Aku mempersembahkan bukti cinta ku yang paling tinggi terhadapnya.
Kubiarkan dirinya memasuki diriku
****
“Aku hamil, Dan”
Siang hari yang panas di belakang kampus terasa dingin bagi kami berdua.
Kami baru dua bulan menjalani masa – masa menjadi mahasiswa.
Dan dengan hasrat yang tak ingin terpisahkan, kamipun memilih untuk menuntut ilmu di kampus yang sama di kota ini.
Tentu saja kedua orang tua kami tak pernah tahu, bahwa biaya kos yang mereka ke kirim ke masing-masing kami, kami gunakan bersama untuk satu kamar kos yang kami tempati berdua. Beberapa penyedia kos-kosan di tempat ini memang menyediakan kebebasan yang tak terbatas bagi penghuninya. Dan itu kami gunakan semaksimal mungkin.
Bagi kami saat itu, tidak ada yang lebih indah selain menjalani hari-hari bersama dengan kebersamaan dan kehangatan.
Tak pernah kami lewatkan satu malampun tanpa bercinta ataupun sekedar bercumbu.
Masa-masa awal di kuliah saat itu, menjadi surga yang sesungguhnya penuh dosa diantara kami.
Dani hanya menunduk terpekur menatap aspal di bawah sepatunya.
Bangku kayu yang kami duduki berdua saat itu rasanya tidak akan kuat menahan beban yang kami tanggung saat itu.
“Dan, aku hamil!: Ujarku agak keras, seolah-olah ingin membuat dia sadar apa yang baru saja kukatakan.
Dia menatapku dan membawa tubuhku ke pelukannya. “Kalau begitu kita menikah, Ci”.
Bisikannya terdengar bagai petir di telingaku.
Aku terkesiap dan melepaskan diriku dari pelukannya, “Dan!Kamu gila! Kita baru aja masuk kuliah, mana mungkin kita menikah!Dan mama pasti akan membunuhku kalau tahu aku hamil di luar nikah!”
Di benakku melintas bayangan mama . Ia selalu membanggakanku sebagai yang terpandai di keluarga dan selalu membanggakan harapannya terhadapku kepada semua orang yang ia kenal. Ia berharap aku bisa menjadi dokter seperrti almarhum ayah. Apa jadinya kalau dia tahu aku hamil?
“Ci, menurutmu kita bisa apa? Diam-diam menggugurkan kandunganmu?”
Aku terdiam, dalam hati sesungguhnya aku ingin sekali menempuh opsi itu.
Wajah Dani tampak kaget. Dia memang tak perlu mendengar kata-kataku untuk mengetahui apa yang kurasakan, dia sudah sangat mengenalku.
“Suci!!! Kamu gila! Kita sudah berbuat dosa, kamu mau membuat dosa yang lain lagi? Kita sudah memilih jalan kita, untuk itu kita harus bertanggung jawab. Dan aku takkan mungkin menjadi lelaki pengecut membiarkanmu membunuh bayi itu yang ada diperutmu, bayi yang tumbuh dari cinta kita. Aku akan bertanggung jawab, Ci. Aku akan menikahimu!”
Aku terdiam. Aku tahu dia benar. Dan sungguh seharusnya aku bersukur Dani rela mengorbankan masa depannya untuk tanggung jawabnya.
Tapi entah kenapa, aku tidak merasa bahagia.
Bagiku, masa depankupun menjadi buram saat ini.
Lalu aku pikiran akan keluarga Dani muncul di kepalaku. Ayah dan ibunya yang sudah tua. Adik-adiknya yang masih kecil. Dani adalah tumpuan keluarga, apakah ayah ibunya sanggup menerima tumpuan keluarga mereka menikah karena ‘kecelakaan’?
****
“Kamu gimana sih, sudah tahu anakmu lagi cengeng!Bukannya pulang cepet, malah pulang telat gini!Kamu pikir aku gak cape apa, beres-beres di rumah dari pagi, malemnya masih repot ngurusin anakmu yang cengeng ini!”
Teriakanku terasa menggema di rumah kontrakan yang kecil ini.AKu tak perduli dengan ocehan tetangga yang pasti mendengar teriakan-teriakanku, aku tak perduli tembok batako yang memisahkan kami dan tetangga bisa dengan mudahnya mengantar berita tentang kami ke mereka.
AKu tak perduli, dan rasanya tak ada yang membuatku perduli lagi.
Tanganku sibuk membuatkan teh untuk Dani, sementara tangan yang satu lagi sibuk menggendong Tari yang sejak tadi menangis tak henti-henti.
Hatiku terasa panas, kontrakan tiga petak ini rasanya dengan mudah membuat aku lekas marah.
Kontrakan dengan dinding yang catnya sudah kusam ini bagaikan neraka kungkungan yang membuat kami sesak nafas. Tidak, bukan kami, tapi aku.
AKu sendiri heran bagaimana mungkin satu kamar kosan yang kami tempati dulu saat kuliah terasa lebih luas dibanding rumah tiga petak ini.
Aku sendiri tak percaya, kemana hilangnya hari-hari penuh cumbu yang dulu kami lewati semasa kuliah. Jangankan untuk bercinta setiap hari, sekedar memeluk dan berkata sayangpun tak pernah lagi kami lakukan.
Entah bagaimana dengan Dani, tapi bagiku, segala hasrat dan perasaan romantis sepertinya sudah hilang menguap, dikikis oleh tuntutan rutinitas yang mewajibkanku menjadi istri dan ibu yang mengurus segalanya dengan semua keterbatasan.
Dengan diam Dani, masuk ke kamar kami yang tak berpintu dan terletak tepat di samping dapur tempat aku membuat teh.
Reaksi diamnya membuat aku semakin marah, “Kamu denger gak sih, Dan!Ngapain kamu pulang malem-malem begini. Kamu pikir istri kamu tuh babu, kamu pikir istrimu gak butuh istirahat apa?”
Teriakanku semakin keras, dan tangisan Taripun semakin membahana.
Selang beberapa detik, Dani keluar dengan hanya berkaus singlet dan meraih Tari dari gendonganku.
Dihiburnya Tari dengan boneka kecil yang dulu ia belikan untuk Tari.
Tari tampak sedikit lebih tenang.
Namun entah kenapa, aku merasa kesal melihat pemandangan itu.
Entah karena ketenangan Dani, atau karena Tari yang terlihat sangat senang bersama ayahnya itu.
Aku mendengus kesal, dan meraih piring dan mengisi nya dengan nasi dan lauk. Kuletakkan dengan kasar di meja, dan mendengus marah, “Tuh, makan malammu! Seperti biasa cuma ada oncom, aku gak bikin sayur, gak ada uang!”
Sekilas kulihat tatapan Dani yang terluka saat menerima piring itu sementara Tari masih di pangkuannya, tapi aku tak perduli.
Aku lari masuk ke kamar dan menghempaskan diriku di kasur busa yang sudah teramat tipis dan terasa dingin itu. Aku menangis.
Tuhan, rasanya aku tak sanggup.
Aku tak sanggup hidup dalam tekanan ekonomi yang teramat ini.
Aku ingin menjadi dokter, bukan ibu dari anak yang cengeng karena kelaparan, dan bersuamikan seorang buruh pabrik yang harus membagi penghasilannya antara istri dan anaknya, serta keluarga ayah ibunya.
Aku terbiasa tidur di kasur yang empuk dan aku tak pernah menyukai rasa oncom di lidahku.
Aku benci bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan seadanya untuk suami, lalu terus bekerja tanpa henti mengurus rumah dan anak.
Aku teringat kamar hangatku.
Aku teringat tv stereo lengkapnya danbuku –bukuku.
Aku teringat mamaku.
Aku tersentak.
Ingatan tentang mamapun membawaku ke percakapan kami melalui telepon sore itu.
****
Sore itu aku menelpon mama. Dengan menggunakan uang belanja yang tak seberapa, dan berharap bisa meminjam uang darinya.
Tak disangka mama malah meminta aku datang ke rumah.
Tentu saja dia tak akan sanggup menghampiri aku yang tinggal di kawasan kumuh di pinggir kota Jakarta ini.
Jangankan untuk menghampiriku, hingga saat ini dia bahkan tak mau mengakui bahwa Dani adalah menantunya.
Ya, dia menerima Tari, dan sangat menyayangi Tari.
Tapi dia tak pernah mau menganggap bahwa Tari lahir dari benih Dani.
Di rumahnya,yang dulu rumahku juga, dengan membawa Tari yang tampak senang dihadiahi mainan dan makanan-makanan enaknya, Mama mengajukan saran yang tak kuduga.
“Kamu pengen kuliah lagi gak, Ci?”
Aku terdiam. Mama melanjuitkan tanpa basa basi.”Kalo kamu mau, Mama akan biayain kuliahmu, sementara kamu kuliah Tari bisa kamu titip di sini, biar Mama yang jaga. Tapi ada syaratnya loh!”
Aku diam, menunggu Mama melanjutkan lagi.
“Syaratnya gampang,Ci. Kamu cerai sama Dani, dan lanjutkan hidup dan kesuksesanmu yang tertunda karena kesalahan bodohmu sama dia”.
Sekali lagi, aku cuma bisa terdiam.
****
“Dengan ini sidang memutuskan, Dani Ardian dan Suci Ayna Zahra, bercerai!”
Aku menunduk.
Mama tertawa memelukku. Tanpa malu menunjukkan kebahagiaannya di depan Dani dan keluarganya. Mata Dani masih terlihat merah dan bengkak.
Dia pasti menangis semalaman.
Kecupan terakhir di keningku malam itu, masih terasa basah oleh airmatanya saat ini.
Dani menatapku, lalu pergi bersama orang tua nya tanpa berkata.Satu-satunya yang ingin ia temui saat ini adalah Tari, begitu katanya padaku malam itu.
Tapi aku tak membawa Tari ke pengadilan. Aku tak ingin drama bodoh yang aku mainkan ini menjadi hantu di otak kecilnya.
Aku?
Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Perutku terasa perih, oleh perasaan yang aku tak tahu apa.
TIba-tiba bayangan akan hari-hariku bermunculan di kepalaku layaknya film documenter yang diputar bersambung-sambung.
Aku tak sanggup berdiri.
Hatiku terasa kering dan pedih.
Menyadari bahwa aku telah menjual cinta dalam hidupku untuk satu kata tolol bernama egois.
Saya tak tahu bagaimana caranya.
Saya tak tahu bagaimana caranya mereka memiliki jiwa dan hati yang besar seperti itu. Seperti Maryam terhadap Rasheednya, seperti Aisha terhadap Fachri nya, seperti orang - orang lain yang bisa menerima pasangannya apa adanya.
Seperti juga suami saya yang dengan penuh kasih menerima saya yang penuh cacat ini.
Ajarkan saya, kumohon
!Gila !!!!!
Saya pasti sudah gilaaa !!!TUHAN, tolong buang racun ini dari kepala saya
TOlong, Tuhannn
Tolonggg….!!!!
So, what’ s the answer? Am I Just a stupid spoiled brat? Am I Just a rebellious selfish wife? Am I just a bored-almost frustrated bastard? Or am I just a narrow minded prick who just can’t get enough of myself? Yeah, I’m all that. But I’m a deeply damn lucky girl too. Its because I have you..
Sekali lagi, saya membuat dosa.
TAdi pagi, saat alarm berbunyi tepat setengah enam, suami saya membangunkan saya meminta saya bergegas mandi. Ini jatah saya mandi duluan katanya.
Dan sambil menggeliat malaspun, saya mengeluh dan memintanya mandi terlebih dulu.
Dengan setengah hatipun, ia memaksa dirinya bangun dari selimut hangat di pagi yang dingin itu.
Seusai mandi, sekilas saya lihat dia menyiapkan dirinya pergi ke kantor.
Dengan kemeja hijaunya, dia terlihat tampan sekali, dan sayapun memaksa diri saya bangun dan menciumnya.
Rasanya damai sekali, selalu.
Perasaan itu selalu timbul setiap kali bersentuhan dengannya.
Dan dengan manjanya dia meminta saya membuatkan sarapan untuknya.
Blesss…
ENtah kenapa saya merasa tersinggung, entah kenapa saya jadi merasa dia terus2 menyindir saya untuk hal yang saya tidak suka itu.
Saya pun berkilah, berdalih dan hampir mengeluh (lagi).
Saya bilang saya malas, dan masih mengantuk.
Yah, dia mengerti. Yah, dia memaklumi.
Tapi saya sadar saya sudah sangat berdosa.
Seharusnya saya bisa melayaninya, seharusnya saya bisa memanjakannya.
Tapi yang terjadi, saya malah terus menerus mengikuti ego saya, mempertahankan yang tidak benar.
Ya TUhan, seharusnya saya bisa menjadi istri yang jauh lebih baik untuknya.
KArena dia, dia sudah menjadi suami yang teramat baik untuk saya..
Maafkan saya, Tuhan.
Saya benci perasaan ini, Saya sungguh membenci perasaan ini. Kenapa ia tidak juga hilang, kenapa ia tidak juga musnah. Hari ini saya bertemu dengannya, perempuan itu. Sesungguhnya dia tak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi saya sungguh membencinya. Entah karena apa, saya tidak tahu. Saya benci senyum manisnya yang ia tunjukkan kepada orang di sekitarnya, saya benci melihat jaket bermerk yang ia gunakan, saya benci wajah teramat cantiknya yang dulu pasti sangat didamba oleh suami saya. ENtah kenapa saya menjadi pendengki sperti ini. MUngkin sejak konflik saya dengannya dulu, saya menjadi sangat membencinya. Padahal di luar itu, dia tak pernah melakukan suatu apa yang membuat saya pantas membencinya. Entah kenapa saya jadi selalu membayangkan dia, dan membuat saya menjadi paranoid terhadap suami saya, menghilangkan kepercayaan saya terhadapnya, menimbulkan keraguan akan cinta suami saya, dan membuat saya curiga bahwa suami saya masih mencintainya. Saya tahu, saya cemburu. TOLOL SEKALI. Tapi tidak, ini tidak setolol itu, siapa yang tidak cemburu dengan perempuan cantik nan sempurna seperti dia, perempuan yang dulunya dicintai sepenuh hati selama lima tahun lebih oleh suami saya. Siapa yang tidak menjadi paranoid membayangkan, bagaimana mungkin cinta yang sedemikian dahsyat dan lama bisa tergantikan oleh cinta singkat nan kilat yang dialami oleh suami bersama saya. Meski saya sudah menikah, saya ragu suami saya sudah mampu melupakannya. Ingin saya memarahi diri sendiri, bahwa menjadi seorang istri, hal pertama yang harus dimiliki adalah sebuah kepercayaan. TIdak hanya pada suami, tapi juga kepada diri sendiri. Dan sepertinya saya kurang berbakat dalam bidang percaya mempercayai ini. Saya benci kondisi ini. Sya tinggal tepat bersebelahan dengan perempuan itu sekarang,rasanya membayangkan kenangan2 indah yang terjadi di antara suami saya dan dia dulu terjadi di tempat yang saya tinggali, sangat menyiksa saya. Teras itu, bisa saja dulu mereka saling memadu kasih di sana. Kamar yang kami tempati, saya takkan pernah tahu apa saja yang sudah mereka lakukan di sana. Segala kode - kode rahasia yang mereka pertukarkan,semua terjadi di rumah itu. AH, dan kisah -kisah dan cerita itu, yang masih saja mengalir lancar ke telinga saya, juga hal-hal yang mengingatkan mereka akan dia yang diutarakan secara implisit di depan saya, betapa saya muak mendengarnya. SIAL!!!! Ah, saya sungguh tak tahan. TUhan, pantaskah saya menjadi seorang istri kalau sudah begini??? MAafkan saya, TUhan. Maafkan saya yang selalu cemburu dan tidak percaya ini..
Saya ini egois, egois sekali.
Bahkan diminta memasak untuk suamipun saya mengeluh.
Yang keluar dari mulut saya waktu itu malah dialog penuh drama yang mempertanyakan hakikat kenapa wanita harus bisa memasak.
Ah, padahal seharusnya saya memasak saja buat dia.
Toh tak akan pernah ada ruginya..
Tapi saya benci memasak, dan susah sekali mengalahkan ego saya lalu turun ke dapur memegang wajan dan codet sekedar membuat telur dadar sekalipun.
Kalau sudah begini, saya jadi mempertanyakan kenapa saya memutuskan untuk menikah dulu.
Karena sepertinya cita cita luhur menjadi istri yang baik bagi orang yang sangat mencintai itu luntur begitu saja oleh keengganan saya menjadi koki bagi nya