it’s because i feel this way
<

TULisan ini ditulis hari Rabu pagi pukul 02.30 am.

Malam ini—ehm, rasanya demi menghindari kesamaan lirik dengan Ahmad Dani si pria arogan, saya akan mengganti keterangan waktunya dengan ‘pagi ini’ saja. Pagi ini, di tengah2 kesibukan mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai akibat terlalu banyak chating dan membuat bulbo di friendster, sekelebat pikiran bertengger di benak saya.

Sebenarnya ini tidak penting, dan tidak perlu dipermasalahkan, tapi mungkin akibat hasrat kesensitivan saya sebagai perempuan, atau lebih tepatnya akibat hasrat mendramatisasi segala hal yang sudah menjadi bakat saya sejak dini , hal tersebutpun dengan manis masih saja menjadi jawara di antara deretan top ten beban pikiran saya.

Percayalah, saya sudah berusaha menyingkirkannya, tapi rasanya kenapa begitu sulit yah????

Anyway, ini diawali dari sebuah percakapan ringan berbumbu nostalgia yang terjadi di antara saya, ibu mertua dan si adik ipar. Saat itu kami tengah mengobrol mengenai masa2 kecil setiap anggota keluarga suami saya. Percakapan pun  menjadi seru ketika sang ibu mertua menunjukkan album foto jaman dahulu kala sebagai bukti penguat ceritanya.

Tentu saja saya dengan senang hati melihat satu persatu foto yang ada di album demi mengetahui bagaimana rupa suami saya dan keluarga baru saya itu di masa lampau. Foto demi foto saya perhatikan. Lalu muncullah wajah yang saya kenal, meski tidak begitu serupa, tapi wajah tersebut sangat saya kenal, hanya saja wajah yang terpampang di foto terlihat jauh lebih muda. Saya buka lagi foto foto selanjutnya, dan wajah tersebut masih terlihat nampak pada foto-foto tersebut. Dengan senyum yang sama, raut muka yang sama, dan ekspresi yang terlihat akrab sekali dengan anggota keluarga suami saya itu.

Perut saya terasa mulas saat itu (rasa yang sama seperti saat saya membuat tulisan ini).

Yah, tak salah lagi. ITU adalah DIA. Wajah orang yang sempat membuat saya sakit dengan panggilan “Sampah” nya terhadap saya. Wajah orang yang sebenarnya tak pernah saya temui atau saya kenal, tapi sangat akrab di benak saya. Wajah yang saya tahu, pernah menjadi satu2nya wajah yang di damba oleh suami. Ya itu wajah mantan kekasih suami saya. (oh, rasanya saya merasa konyol membuat dan overly dramatic membuat tulisan ini)

Seketika saya langsung bertanya pada suami, dia tidak mau menjawab, hanya tersenyum,lalu berlalu pergi mengurus suatu keperluan. Dan tinggallah saya, mendengarkan tutur cerita Ibu Mertua dan si Adik Ipar mengenai si pemilik wajah.

Terungkaplah bahwa, si pemilik wajah memang tadinya merupakan bagian dari keluarga yang memang sungguh sudah dianggap seperti saudara. Cerita-cerita nostalgia pun mengalir lancar dari Ibu dan Adik baru saya itu. Mengenai sifat-sifat mantan kekasih suami saya itu, mengenai hal-hal lucu ataupun menyedihkan yang dialami keluarga itu dengannya, mengenai cara suami saya bisa menjalin hubungan dengannya, dan segala kisah menarik nan romantis (segala yang berbau nostalgia pasti menjadi romantis

kan

?)yang terjadi di antara mereka.

Saat itu saya sepenuhnya mendengarkan, sambil sesekali memberikan komentar untuk cerita2 yang sekiranya menarik dan pantas dikomentari.

Tapi jujur, rasanya perut saya perih sekali saat itu. Lebih perih dibanding ketika saya harus menjalankan puasa tanpa sahur terlebih dahulu. Rasanya seperti diiris-iris dengan pisau tumpul yang semu. Semu saya bilang, karena seharusnya saya tidak perlu memikirkan hal-hal yang sudah lampau. Tumpul, Karena seharusnya kenangan masa lalu itu tidak perlu berpengaruh pada kondisi hati saya di masa sekarang, di mana sya sudah menjadi seorang istri bagi suami saya.

Sekali lagi tapi, saya toh hanya manusia biasa. Atau tepatnya saya hanya sosok perempuan yang sering kali sensitive, dan senang memikirkan hal tak perlu. Maka saya pun tetap merasakan sakit mendengarkan semua cerita itu, dan tetap merasa perlu memikirkan semua itu. Tidak, saya tidak merasa sakit bukan karena cerita2 itu. Tapi saya merasa sakit karena sesungguhnya saya tak pernah ingin  mendengar cerita cerita masa lalu itu, apa lagi melihat foto-foto nostalgia itu di tempat yang sekarang ini seharusnya menjadi rumah saya.

Saya merasa sakit, karena sungguh saya tak pernah mau mengingat-ingat bahwa mantan kekasih suami saya, yang dulunya satu-satunya orang yang suami saya cintai itu, tinggal tepat di sebelah rumah itu, dan tadinya merupakan bagian dari keluarga baru saya itu.

Saya sakit, Karena saya takut hal yang paling saya takutkan terjadi. Bahwa saya tengah menggantikan posisi seseorang. Dan saya lebih sakit lagi saat mengetahui bahwa ternyata panggilan untuk perempuan itu ,sama persis dengan panggilan kucing kesayangan keluarga itu.(Mungkin tidak ada hubungannya, tapi saya memang orang yang suka sekali menghubung2kan segala hal, jadi harap dimaklumi). Saat itu saya ingin menangis, tapi rasanya bodoh sekali harus menangisi hal bodoh seperti itu, akhirnya saya pun batal menangis (padahal seharusnya saya menangis saja, supaya saya tidak perlu membuat tulisan bodoh ini dan mempermalukan diri saya).

Anyway, lebih dari semua itu, sayapun merasa bingung sekali. Sudah kodrat perempuan untuk menyalahkan sesuatu atau seseorang, saat sesuatunya menjadi salah. Tapi dalam posisi saya ini, siapa yang bisa saya salahkan. Saya tidak mungkin menyalah

kan

ibu mertua ataupun adik saya, dan saya pun TAK MAU menyalahkan mereka. However, saya mulai menyayangi mereka, dan kalau mereka sedang ingin bernostalgia, apakah saya pantas melarang?Lagi pula, entah kenapa saya merasakan suatu nada penuh cinta tiap kali ibu mertua bercerita tentangnya, apa saya pantas merasa cemburu? Rasanya tidak. Adalah haknya untuk mencintai siapapun, atau bernostalgia tentang apapun.

Lalu kepada siapa harus mengeluh, rasanya ingin sekali mencurahkan semua “beban di dada ini”(saya beri tanda kutip karena saya tahu kata2 itu konyol sekali). Sebelum menikah, saya pernah punya bayangan, atau tepatnya cita-cita, bahwa saya akan mengkomunikasikan segala hal, masalah kepada suami saya. Karena sudah sejak lama saya menginginkan punya kehidupan rumah tangga yang terbuka, di mana pasangan bisa menjadi tempat saya mencurahkan segala hal. Tapi untuk hal ini, rasanya saya kok enggan bercerita padanya. Saya takut bila saya bercerita maka ia akan merasa bahwa saya menyalahkan keluarganya, lalu dia pun akan mengeluhkan hal yang sama pada keluarganya, dan masalahpun menjadi panjang.

TIDAK. Saya tidak ingin itu terjadi, karena sayapun tidak menyalahkan keluarganya untuk hal ini.

Tapi rasanya dada saya masih sesak, dan perut saya masih terasa perih (Ah, mungkin saya saja yang sedang masuk angin, dan kelaparan – Mari kita anggap saja begitu,shall we?)

Atau mungkin untuk mudahnya, saya anggap saja bahwa menikahi seseorang itu sama dengan menikahi masa lalunya… (is that so???))

You know what, the funniest part adalah ketika all the said and done is over, ibu mertua mengucapkan maaf berkali kali kepada saya. Hmm… apa dia bisa membaca pikiran saya yah..

*Aaaaarrrggghhhh.. rasanya saya jadi ingin bakar foto-foto itu

January 22nd, 2008 at 6:20 pm