Aku menatapnya. Dirinya terlihat begitu jauh. Aku hampir tak dapat menyentuhnya. Dia duduk terpekur di sana, hampir hilang.
Limbahan air mata menetes deras dari mata tajamnya.
Pendaran luka tampak terpampang pahit dari mata yang dulu begitu menawan ku itu.
Aku tak mampu mengatakan apa-apa. Aku bahkan tak sanggup menundukkan hati meminta maaf kepadanya. Aku menyakitinya, aku tahu itu.
Tapi diapun menyakitiku, begitu suara egois dalam hatiku berbicara.
Tapi aku tahu, aku cuma bersikap defensif, itu saja.
Ah, seandainya manusia tidak memiliki sifat egois. Mungkin aku masih mampu bersamanya.
"Sampai kapanpun aku akan mencintaimu" Dia menatap wajahku, berusaha tersenyum saat mengatakan itu. Aku mengangguk, tersenyum. Berharap senyumku mampu memberikan sedikit kekuatan bagi dirinya.
Tapi itu tak berarti aku percaya kata-katanya. Aku bahkan tak percaya kata-kataku sendiri saat ini.
"Boleh aku kecup keningmu?Sebagai tanda perpisahan mungkin?"
Suaranya begitu lemah. Aku tahu dia begitu sedih. dan sangat membenci perpisahan ini. Akupun tidak menyukai perpisahan. Tapi aku sudah mengalaminya berkali-kali.
Jadi bagiku, perpisahan hanyalah suatu fase di mana akan adanya perjumpaan yang lain.
"Bolehkah?"Dia kembali bertanya.
Akupun mengangguk, tersenyum lemah. Berusaha menunjukkan kepadanya bahwa ini berat juga bagiku.
Tapi mungkin dia akan berfikir, akulah yang meminta ini, jadi aku pasti mampu menghadapinya.
Tapi yang seharusnya dia tak tahu, saat ini aku bahkan tak tahu apa sebenarnya yang aku inginkan.
Namun, ku biarkan dia mencium keningku. Ciuman yang lembut, namun terasa begitu lemah. Tak disangka air mataku ikut menetes deras.
Untuk apa air mata itu, Akupun tak mengerti.
Padahal aku yang meminta perpisahan ini.
Dulu aku sangat mencintainya. Mungkin sekarangpun masih. Sosok ceria yang selalu membuatku tertawa. Sosok ceria yang menghiburku saat kepergian almarhum ayah. Sosok ceria yang memberikan jiwa kepadaku saat ku merasa kesepian.
Kami pergi ke sekolah yang sama.
Mengerjakan segalanya bersama, dan hampir selalu bersama. Semua orang menganggap cinta kami cuma cinta sementara. Cinta sepasang anak berusia tanggung yang tak akan kekal dimakan zaman.
Aku tak percaya omongan mereka. Bagiku, dia adalah segalanya.
Aku selalu yakin bahwa dialah yang akan menjadi suamiku, pendampingku, ayah dari anak-anakku kelak.
Dialah takdirku.
Dan siang itu, di sebuah kamar kosong milik seorang teman, Aku mempersembahkan bukti cinta ku yang paling tinggi terhadapnya.
Kubiarkan dirinya memasuki diriku
****
“Aku hamil, Dan”
Siang hari yang panas di belakang kampus terasa dingin bagi kami berdua.
Kami baru dua bulan menjalani masa – masa menjadi mahasiswa.
Dan dengan hasrat yang tak ingin terpisahkan, kamipun memilih untuk menuntut ilmu di kampus yang sama di kota ini.
Tentu saja kedua orang tua kami tak pernah tahu, bahwa biaya kos yang mereka ke kirim ke masing-masing kami, kami gunakan bersama untuk satu kamar kos yang kami tempati berdua. Beberapa penyedia kos-kosan di tempat ini memang menyediakan kebebasan yang tak terbatas bagi penghuninya. Dan itu kami gunakan semaksimal mungkin.
Bagi kami saat itu, tidak ada yang lebih indah selain menjalani hari-hari bersama dengan kebersamaan dan kehangatan.
Tak pernah kami lewatkan satu malampun tanpa bercinta ataupun sekedar bercumbu.
Masa-masa awal di kuliah saat itu, menjadi surga yang sesungguhnya penuh dosa diantara kami.
Dani hanya menunduk terpekur menatap aspal di bawah sepatunya.
Bangku kayu yang kami duduki berdua saat itu rasanya tidak akan kuat menahan beban yang kami tanggung saat itu.
“Dan, aku hamil!: Ujarku agak keras, seolah-olah ingin membuat dia sadar apa yang baru saja kukatakan.
Dia menatapku dan membawa tubuhku ke pelukannya. “Kalau begitu kita menikah, Ci”.
Bisikannya terdengar bagai petir di telingaku.
Aku terkesiap dan melepaskan diriku dari pelukannya, “Dan!Kamu gila! Kita baru aja masuk kuliah, mana mungkin kita menikah!Dan mama pasti akan membunuhku kalau tahu aku hamil di luar nikah!”
Di benakku melintas bayangan mama . Ia selalu membanggakanku sebagai yang terpandai di keluarga dan selalu membanggakan harapannya terhadapku kepada semua orang yang ia kenal. Ia berharap aku bisa menjadi dokter seperrti almarhum ayah. Apa jadinya kalau dia tahu aku hamil?
“Ci, menurutmu kita bisa apa? Diam-diam menggugurkan kandunganmu?”
Aku terdiam, dalam hati sesungguhnya aku ingin sekali menempuh opsi itu.
Wajah Dani tampak kaget. Dia memang tak perlu mendengar kata-kataku untuk mengetahui apa yang kurasakan, dia sudah sangat mengenalku.
“Suci!!! Kamu gila! Kita sudah berbuat dosa, kamu mau membuat dosa yang lain lagi? Kita sudah memilih jalan kita, untuk itu kita harus bertanggung jawab. Dan aku takkan mungkin menjadi lelaki pengecut membiarkanmu membunuh bayi itu yang ada diperutmu, bayi yang tumbuh dari cinta kita. Aku akan bertanggung jawab, Ci. Aku akan menikahimu!”
Aku terdiam. Aku tahu dia benar. Dan sungguh seharusnya aku bersukur Dani rela mengorbankan masa depannya untuk tanggung jawabnya.
Tapi entah kenapa, aku tidak merasa bahagia.
Bagiku, masa depankupun menjadi buram saat ini.
Lalu aku pikiran akan keluarga Dani muncul di kepalaku. Ayah dan ibunya yang sudah tua. Adik-adiknya yang masih kecil. Dani adalah tumpuan keluarga, apakah ayah ibunya sanggup menerima tumpuan keluarga mereka menikah karena ‘kecelakaan’?
****
“Kamu gimana sih, sudah tahu anakmu lagi cengeng!Bukannya pulang cepet, malah pulang telat gini!Kamu pikir aku gak cape apa, beres-beres di rumah dari pagi, malemnya masih repot ngurusin anakmu yang cengeng ini!”
Teriakanku terasa menggema di rumah kontrakan yang kecil ini.AKu tak perduli dengan ocehan tetangga yang pasti mendengar teriakan-teriakanku, aku tak perduli tembok batako yang memisahkan kami dan tetangga bisa dengan mudahnya mengantar berita tentang kami ke mereka.
AKu tak perduli, dan rasanya tak ada yang membuatku perduli lagi.
Tanganku sibuk membuatkan teh untuk Dani, sementara tangan yang satu lagi sibuk menggendong Tari yang sejak tadi menangis tak henti-henti.
Hatiku terasa panas, kontrakan tiga petak ini rasanya dengan mudah membuat aku lekas marah.
Kontrakan dengan dinding yang catnya sudah kusam ini bagaikan neraka kungkungan yang membuat kami sesak nafas. Tidak, bukan kami, tapi aku.
AKu sendiri heran bagaimana mungkin satu kamar kosan yang kami tempati dulu saat kuliah terasa lebih luas dibanding rumah tiga petak ini.
Aku sendiri tak percaya, kemana hilangnya hari-hari penuh cumbu yang dulu kami lewati semasa kuliah. Jangankan untuk bercinta setiap hari, sekedar memeluk dan berkata sayangpun tak pernah lagi kami lakukan.
Entah bagaimana dengan Dani, tapi bagiku, segala hasrat dan perasaan romantis sepertinya sudah hilang menguap, dikikis oleh tuntutan rutinitas yang mewajibkanku menjadi istri dan ibu yang mengurus segalanya dengan semua keterbatasan.
Dengan diam Dani, masuk ke kamar kami yang tak berpintu dan terletak tepat di samping dapur tempat aku membuat teh.
Reaksi diamnya membuat aku semakin marah, “Kamu denger gak sih, Dan!Ngapain kamu pulang malem-malem begini. Kamu pikir istri kamu tuh babu, kamu pikir istrimu gak butuh istirahat apa?”
Teriakanku semakin keras, dan tangisan Taripun semakin membahana.
Selang beberapa detik, Dani keluar dengan hanya berkaus singlet dan meraih Tari dari gendonganku.
Dihiburnya Tari dengan boneka kecil yang dulu ia belikan untuk Tari.
Tari tampak sedikit lebih tenang.
Namun entah kenapa, aku merasa kesal melihat pemandangan itu.
Entah karena ketenangan Dani, atau karena Tari yang terlihat sangat senang bersama ayahnya itu.
Aku mendengus kesal, dan meraih piring dan mengisi nya dengan nasi dan lauk. Kuletakkan dengan kasar di meja, dan mendengus marah, “Tuh, makan malammu! Seperti biasa cuma ada oncom, aku gak bikin sayur, gak ada uang!”
Sekilas kulihat tatapan Dani yang terluka saat menerima piring itu sementara Tari masih di pangkuannya, tapi aku tak perduli.
Aku lari masuk ke kamar dan menghempaskan diriku di kasur busa yang sudah teramat tipis dan terasa dingin itu. Aku menangis.
Tuhan, rasanya aku tak sanggup.
Aku tak sanggup hidup dalam tekanan ekonomi yang teramat ini.
Aku ingin menjadi dokter, bukan ibu dari anak yang cengeng karena kelaparan, dan bersuamikan seorang buruh pabrik yang harus membagi penghasilannya antara istri dan anaknya, serta keluarga ayah ibunya.
Aku terbiasa tidur di kasur yang empuk dan aku tak pernah menyukai rasa oncom di lidahku.
Aku benci bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan seadanya untuk suami, lalu terus bekerja tanpa henti mengurus rumah dan anak.
Aku teringat kamar hangatku.
Aku teringat tv stereo lengkapnya danbuku –bukuku.
Aku teringat mamaku.
Aku tersentak.
Ingatan tentang mamapun membawaku ke percakapan kami melalui telepon sore itu.
****
Sore itu aku menelpon mama. Dengan menggunakan uang belanja yang tak seberapa, dan berharap bisa meminjam uang darinya.
Tak disangka mama malah meminta aku datang ke rumah.
Tentu saja dia tak akan sanggup menghampiri aku yang tinggal di kawasan kumuh di pinggir kota Jakarta ini.
Jangankan untuk menghampiriku, hingga saat ini dia bahkan tak mau mengakui bahwa Dani adalah menantunya.
Ya, dia menerima Tari, dan sangat menyayangi Tari.
Tapi dia tak pernah mau menganggap bahwa Tari lahir dari benih Dani.
Di rumahnya,yang dulu rumahku juga, dengan membawa Tari yang tampak senang dihadiahi mainan dan makanan-makanan enaknya, Mama mengajukan saran yang tak kuduga.
“Kamu pengen kuliah lagi gak, Ci?”
Aku terdiam. Mama melanjuitkan tanpa basa basi.”Kalo kamu mau, Mama akan biayain kuliahmu, sementara kamu kuliah Tari bisa kamu titip di sini, biar Mama yang jaga. Tapi ada syaratnya loh!”
Aku diam, menunggu Mama melanjutkan lagi.
“Syaratnya gampang,Ci. Kamu cerai sama Dani, dan lanjutkan hidup dan kesuksesanmu yang tertunda karena kesalahan bodohmu sama dia”.
Sekali lagi, aku cuma bisa terdiam.
****
“Dengan ini sidang memutuskan, Dani Ardian dan Suci Ayna Zahra, bercerai!”
Aku menunduk.
Mama tertawa memelukku. Tanpa malu menunjukkan kebahagiaannya di depan Dani dan keluarganya. Mata Dani masih terlihat merah dan bengkak.
Dia pasti menangis semalaman.
Kecupan terakhir di keningku malam itu, masih terasa basah oleh airmatanya saat ini.
Dani menatapku, lalu pergi bersama orang tua nya tanpa berkata.Satu-satunya yang ingin ia temui saat ini adalah Tari, begitu katanya padaku malam itu.
Tapi aku tak membawa Tari ke pengadilan. Aku tak ingin drama bodoh yang aku mainkan ini menjadi hantu di otak kecilnya.
Aku?
Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Perutku terasa perih, oleh perasaan yang aku tak tahu apa.
TIba-tiba bayangan akan hari-hariku bermunculan di kepalaku layaknya film documenter yang diputar bersambung-sambung.
Aku tak sanggup berdiri.
Hatiku terasa kering dan pedih.
Menyadari bahwa aku telah menjual cinta dalam hidupku untuk satu kata tolol bernama egois.