it’s because i feel this way
<

"PLak!!!!" Panas rasanya tamparan itu mendarat di pipiku. Tanganku yang dingin merabanya, tapi rasanya masih panas sekali. Aku menatap Mama tanpa kedip, lelehan air mata tak terasa mengalir deras. Rasanya aku ingin menangis, tapi rasa kecewa dan ketidakmengertian membuat yang keluar dari mulutku malah teriakan marah.

"Kenapa sih, Mah??? Kenapa Mama siksa Vie terus kayak gini? Salah Vie apaaaa?"

Wajah Mama tampak memerah, aku bahkan bisa mengandaikan semburan api mungkin bisa saja keluar dari mulutnya saat ini. Tapi dia diam tak berkata apa-apa. Hanya nafas nya yang terlihat semakin memburu.

Untuk sekejap aku hanya bisa mendengar nafasku dan nafasnya yang sama-sama terengah. Kamarku yang sempit rasanya semakin panas oleh bau kemarahan ini.

Tiba-tiba kulihat dia mengambil sapu yang terletak di pojok kamar, dan tangannya yang tua namun kekar oleh zaman itu dengan cepat mengayunkan sapu bergagang kayu itu ke kakiku. Aku menjerit kesakitan.

Dan Mamapun semakin membabi buta. Awalnya kaki. Lalu paha, kemudian tangan, hingga badanpun tak luput dari serangan Mama dan sapuku. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.

"Dasar anak kurang ajar! Tak tahu diuntung!!Kamu mikir kamu siapa berhak bentak-bentak ibumu seperti itu!"

Aku menangis, dan berlutut, hampir mencium kakinya. Memohon ampun. Mama tidak berhenti. Serangannya semakin menggila.

"Anak biadab!Tahu begini,aku biarkan saja kau mati sejak di kandungan!Anak setan!"

Aku masih meringkuk di kakinya. Masih menangis memohon ampun. Punggung dan lenganku semakin panas merasakan kerasnya gagang sapu itu yang memukul bertubi-tubi.

Semakin keras, semakin sering, dan semakin berulang-ulang.

Terus berulang-ulang hingga rasanya tak pernah berhenti.

Terus berulang-ulang hingga rasanya aku sudah tak merasakan sakitnya. Terus berulang-ulang ..

Terus berulang-ulang..

"Ampuni aku, Mama.." Isakku hampir tak bersuara.

——————————————————————————– You can dance. You can jive, having the love of your life ..

Dering bernada Dancing Queen milik Abba terdengar di ponselku.

AKu teringat Papa. Abba adalah grup musik favoritnya. Dulu sekali, setiap akhir pekan, dia akan memutar lagu itu dan mengajakku berdansa dengannya.

Kata Papa aku adalah Dancing Princessnya, yang suatu saat akan menjadi Dancing Queen-nya" Biasanya aku akan tertawa malu mendengarnya. KUbayangkan seorang dancing princess ataupun dancing queen adalah puteri atau ratu yang cantik mengenakan gaun indah dan mahkota permata. Dan aku sungguh bangga diberikan ‘gelar’ itu oleh Papa.

Bayangan tentang papa terus merayap di sela otakku hingga ku tak sadar, ponselku sudah berdering lima kali. Kudiamkan ponselku hingga deringnyapun terdiam sendiri.

Aku masih meringkuk di lantai, tak memiliki keinginan untuk bergerak bahkan mungkin untuk bernafas. Bekas pukulan sapu tadi tak menyisakan tenaga untukku. Aku cuma bisa meringkuk, dan berangan. Seandainya Papa masih ada, ini tak akan terjadi.

Seandainya Papa masih ada, Mama takkan marah seperti ini. Seandainya Papa masih ada, dia akan mengerti.

Seandainya Papa masih ada..

Papa, aku kangen kamu..

Tanpa sadar lelehan air mata hangat kembali mengalir.

You can dance..You can jive..

Ponselku kembali berteriak. Aku diam. Berharap deringnya akan mati sendiri seperti tadi.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Sayup di sebelah kamar ku dengar suara Mama yang sedang mengaji. Mungkin dia sedang mencuci dosa-dosanya. Ah, tidak pikirku. Surga itu ada di telapak kaki ibu,apa mungkin seorang ibu bisa berdosa. Aku yang seorang anak hanya boleh menerima apapun perlakuannya. Karena dia yang melahirkanku. Dia yang berhak atas diriku. DIa yang berhak atas hidupku dan juga pilihanku.

Pikiran-pikiran itu memaksaku untuk bangkit dan mengambil ponsel di meja. Kutekan tombol berwarna hijau. Serta merta diujung saluran suara Ferdy terdengar.

"Vie? Vie? Kamu gak apa-apa?" AKu terdiam.

Sekali lagi mengumpulkan tenaga, untuk berbicara.

"Vie..? Vieee!Jawab aku, kamu gak apa-apa kan?" Suara Ferdy terdengar begitu penuh kekhawatiran, dan itu membawa perasaan hangat, membuat aku secara tak sadar terisak.

"Vie..?"

Ferdy mendesakku untuk berbicara, "Please, say a word to me!"

AKu menarik nafas panjang, "Ya,Kak?". Sebuah bisikan yang harus kuperdengarkan demi mencegah Mama mendengarnya.

"Vie, kamu diapain? Tadi Kakak telpon ke rumah, sekilas ada suara Mamamu berteriak-teriak. Tadi Kakak mau bicara sama Vie, tapi Mbak Dian bilang kamu sudah tidur" AKu terdiam, tentu saja Mbak Dian tak akan berani mengadukan apa yang terjadi sesungguhnya. "Vie, kamu diapain?"

"Ngga, Kak. Vie gak diapa-apain." Aku tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya sekarang. Selain tak ingin Mama mendengar, aku juga tak punya cukup tenaga. Kudengar suara helaan nafas Ferdy di ujung saluran.

"Ya, sudah. Kamu yakin, Vie?" Tak sadar aku mengangguk mengiyakan. Helaan nafasnya terdengar lagi.

"Oke, kalo gitu. Besok kita ketemu di tempat biasa ya, Vie. Kakak pengen ketemu sama kamu. Kita bicarain semuanya yah"

"Oke" AKu menyahut pelan.

"Baik sayangku, met bobo yah, i love you!"

Tanpa mengucapkan sepatah kata, kutekan tombol merah di ponselku.

——————————————————————————– Ferdy adalah sahabatku. Juga kekasihku, juga belahan jiwaku. Kami tumbuh besar bersama, keluarga kamipun sudah sedemikian akrabnya hingga pada saat Papa meninggal, Om Cahyo alias ayah Ferdylah yang sibuk membantu Mama mengurus segalanya. Akupun sudah seperti anak sendiri bagi orang tua Ferdy.

Awalnya aku lebih sering bermain bersama Ani, adiknya. Itulah sebabnya hingga sekarang aku memanggil Ferdy dengan sebutan kakak. Karena dia, juga sudah seperti kakak bagiku.

Tapi seiring bertambahnya usia, dan semakin dewasanya pemikiran, maka benih-benih itupun tumbuh di antara kami. Benih yang membuat hatiku terpagut pada hati nya. Yang membuat kehadirannya menjadi candu bagiku, dan yang membuat hidupkupun berpusat hanya kepadanya.

Tapi siapa sangka, perasaan yang sedemikian indah dan membuat aku dan Ferdy bahagia itu, justru memporakporandakan hubungan Mama dan keluarga Ferdy.

Entah kenapa, Mama tidak suka mengetahui aku dekat dengan Ferdy. Dan ketidaksukaannya dengan jelas ia tunjukkan kepada semua orang. Mama menunjukkan sikap bermusuhannya terhadap orang tua dan keluarga Ferdy. Mama bahkan dengan lantang menghina Ferdy setiap kali ada kerabat lain yang membicarakan hubungan kami.

Dan sasaran permusuhan Mama yang paling jelas, tentu saja adalah aku. Makian, hinaan dan pukulan seperti tadi sudah sering aku terima sejak Mama tahu soal hubunganku dengan Ferdy.

Anehnya, Mama tidak pernah menjelaskan kepadaku kenapa dia tidak menyukai Ferdy yang dulunya sangat sering membantu Mama mengerjakan pekerjaan laki-laki di rumahku. Mama hanya mengatakan tidak suka, tidak suka dan tidak suka. Mbak Dian pernah bilang kalau mama hanya tidak ingin hubungan dekat antara keluarga kami dan keluarga Ferdy jadi retak hanya karena hubungan cinta kami.

Tapi aku tak mengerti, jika demikian, mengapa malah Mama yang merusaknya dengan sering kali menghina Ferdy hingga membuat keluarga Ferdy jadi sakit hati.

Ah, aku memang tak pernah bisa mengerti Mama.

Demi menekankan ketidaksukaannya itu, Mama bahkan tidak sungkan mendaratkan pukulan-pukulannya itu kepadaku.

Dan aku, akupun semakin lupa diri.Mungkin benar seperti kata pepatah, semakin digenggam, maka semakin terburai. Begitu pula yang aku rasakan terhadap Ferdy. Semakin Mama melarang, semakin gila aku terhadapnya.

Semakin sering aku mencari-cari kesempatan untuk bisa bersama Ferdy. Bolos kuliah dan diam-diam bertemu Ferdy di mall sudah menjadi rutinitasku. Otak, pikiran, hati dan tubuhkupun semakin menjerit mencandu Ferdy.

Dan malam ini, di tengah sakit yang mendera tubuhku, aku memprasastikan satu tekad di hatiku.

Akan kutunjukkan pada Mama, seberapa banyak aku mencintai Ferdy. Akan kutunjukkan pada Mama, bahwa cintaku kepada Ferdy, tak bisa dibayar ataupun dibeli dengan pukulan dan makian itu.

Akan kutunjukkan padamu, Mama.

——————————————————————————– "Kamu yakin, Vie?" Ferdy berucap lembut.

Tatapan matanya yang tajam, tampak syahdu menelusup jauh ke dalam jendela hatiku. Dari balik tubuhnya kulihat jendela kaca di belakangnya mempertontonkan layar biru kelam dengan taburan bintang di sekelilingnya. Sayup kudengar suara aliran air sungai di bawah kamar yang kami tempati. Bau udara gunung menyisip masuk melalui lubang -lubang udara di kamar yang kami sewa.

Aku menarik nafas panjang dan membalas tatapannya. Lalu tersenyum.

"Iya, Kak! Vie yakin." Saat itu kami masih duduk di tepi ranjang empuk kamar berukuran empat kali empat itu. Tangan kami saling menggenggam erat, seolah-olah berusaha meredam gemuruh jantung yang kami rasakan saat itu.

Dengan lembut Ferdy mencium tanganku. Bibir kenyalnya yang menyentuh kulit tanganku membawa perasaan tersengat yang luar biasa pada diriku. Padahal ini bukan pertama kali aku merasakan bibirnya. Entah sudah berapa puluh kali bibir kami saling bertaut mesra, entah itu di gedung bioskop yang gelap, atau hanya di ruang tamu Ferdy yang selalu sepi dan hanya diterangi temaram lampu berwarna kuning.

Tapi kali ini, entah kenapa sentuhan bibirnya mampu membuatku merasa seperti yang kurasakan saat pertama ia menciumku dulu. Bahkan lebih.

Entahlah, mungkin karena tempatnya, mungkin juga karena suasanyanya.

Atau mungkin hanya diriku saja yang terlalu berdramatis mengetahui bahwa ciuman kali ini , akan berujung pada hal yang berbeda.

Ferdy mulai menciumku, dengan lembut dengan mesra. Aku bagai terbang ke bulan. Sekilas bayangan Mama dengan gagang sapunya berkelebat di benakku. AKu menciumnya semakin bernafsu. Dengan pelan Ferdy membuka kancing di blusku.

AKu tak menyangka dia selihai itu membuka kancing. Tata busananya saat sekolah pasti mendapat A. Harusnya Mama bangga akan Ferdy.

Pikiranku makin mengembara, dan membuatku merasa harus meraih kaosnya dan melepaskannya dari tubuh kekar itu. Dan saat dia membaringkan tubuhku serta mulai mencumbunya, akupun hampir lupa di mana aku berada dan alasan apa yang tadi kuberi pada Mama hingga aku bisa berada di sini.

Ah, Indah!

Ya, aku bilang pada Mama aku pergi bersama Indah dan keluarganya. Indah sendiri yang membantuku bicara pada Mama tadi siang.

Wait a minute, bukan Indah. Tapi Sandra, oh atau aku lupa bilang pada Mama..

Dan..OOhhh Oh, cumbuan ini terasa begitu nikmat..

Nikmat yang tiada tara dan membuatku ingin menangis.

Lalu tiba-tiba terhenti.

Tubuh Ferdy kini berada di atasku. Dan wajahnya menatapku dengan penuh sayang, tangan kekarnya mengelus wajahku.

"Kamu siap, Vy?" SUaranya terdengar bergetar di telingaku.

Aku mengangguk dan berbisik, "I love you,Kak"

Ferdy menciumku, dan semenit kemudian, yang aku rasa hanya sakit yang luar biasa dan kenikmatan yang tak ada tara.

——————————————————————————– Pantai ini indah sekali. Lautnya begitu bening, pasirnya begitu putih. Anginnya pun menambah rasa nikmat berada di sini, rok dan rambutku melambai dengan gemulainya.

Kulihat Ferdy berlari ke arahku, ah rasanya aku ingin berlari juga, tapi tidak aku tunggu saja dia di sini.

Aku menunggunya dengan hati membuncah penuh kebahagiaan, rasanya cinta ini membuat aku seperti di surga.

Artinya bohong, surga tak ada di telapak kaki ibu, tapi ada di hatiku dan Ferdy. Ah aku tak mau mengingat soal ibu ataupun Mama.

Aku mengusap wajahku mencoba melepaskan pikiran soal Mama. Kutatap lagi Ferdy yang sedang berlari ke arahku.

LOh, itu bukan Ferdy.

Itu Mama sedang berlari dengan marah ke arahku. Dadaku bergemuruh ketakutan, aku tak mau Mama memukulku.

Aku berlari kencang, kencang sekali.

Lalu sayup kudengar lagu Abba itu, ah apakah Papa di sini?

Aku harus berlari menemui Papa, dia pasti mau membantuku.

Suara lagunya makin keras, makin kencang, itu artinya Papa ada di dekat sini.

Papa..! Papa..!

Aku membuka mataku, dan mengerjap-ngerjapkannya.

Mencoba mengenali suasana kamar tempat aku berada.

Dadaku bergemuruh, akibat mimpi tadi dan akibat melihat Ferdy tampak tidur bertelanjang dada dengan nyaman disebelahku. Ponselku atas meja, dering Dancing Queen-nya lah yang rupanya tadi membangunkan aku.

Aku menatap nomor yang muncul di layarnya. Nomor kakakku. Aku ragu, apakah harus kuangkat atau tidak. Akal sehat memaksaku mengangkatnya.

"Vivie!!!" Diujung saluran kudengar suara Mbak Dian tidak seperti biasanya. Dia menangis terisak-isak, entah kenapa perutku terasa begitu perih.

"Vivie, cepet pulang Vie!Mama masuk rumah sakit, tadi jatuh di kamar mandi!"

Kakiku mendadak lemas, dan dunia terasa gelap bagiku

——————————————————————————– Aku duduk di kamar Mama. Sebagian tamu dan kerabat yang membantu pemakamam sudah pulang. Hanya beberapa saudara dekat dari Mama dan Papa yang ada berseliweran.

Tanpa sadar aku membuka laci meja rias Mama. Beberapa perlengkapan riasnya yang masih menyisakan aroma dirinya tersebar di kamar. Di selain perlengkapan rias, aku melihat foto kami sekeluarga sewaktu masih ada papa.

Dulu kami bahagia sekali.

Aku menangis.

Aku merogoh ke dalam laci lagi.

Secarik kertas kutemukan di dalamnya. Kertas yang warna dan bekas lipatannya sudah demikian usang dimakan usia.

KUbuka lipatan kertas dengan hati-hati. Aku sedikit tersentak demi melihat ada tulisan papa di sana.

Kubaca tulisan demi tulisan, dengan perasaan campur aduk yang membuat tubuhkupun bergetar.

Satu baris paragraf membuatku lemah tak berdaya.

"Mama, papa sudah memaafkanmu. Perselingkuhanmu dengan Cahyo sudah Papa maafkan dan Papa anggap tak pernah terjadi. Buah kesalahan itu, yang sekarang ada di perutmu, biarlah kita besarkan bersama. Tak usah kau ingat-ingat bahwa itu adalah anak Cahyo, dan tak perlu pula kau katakan kepadanya. Kita simpan dan kubur kejadian ini dalam-dalam. Yang sekarang harus kita lakukan adalah, menyambut bidadari baru yang ada di perutmu sekarang, dan menjadikannya bidadari kecil kita, dan teman kecil Dian, anak kita"

Aku melihat tanggal yang tertera di dalam surat.

Tanggalnya hanya berbeda tiga bulan dari tanggal lahirku.

TUbuhku lemas, jantung dan aliran darahku seperti tidak bekerja lagi. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap.

——————————————————————————– AKu sudah membayar harga cintaku sekarang.

Dengan membohongi Mama.

Dengan mengingkari keinginan Mama, yang sesungguhnya hanya ingin menjauhiku dari sebuah dosa yang teramat besar.

Dengan mengkhianati Mama tanpa pernah mengucapkan maaf kepadanya

April 1st, 2008 at 11:07 pm


One Response to “Berapa Harga Cintamu?other side”
  1. 1
      Le Désinfectant says:

    Malam terasa begitu panjang dan kelam bagi Batman. Ia harus terpaku di depan komputer yang sedikit-sedikit freeze, sambil sesekali menghirup teh manis anget hambar… Gula masih tersimpan rapi di plastik. Batman malas membuka.
    Ia mendapati bahwa dirinya benar-benar tidak mengerti atau pernah sekalipun mendengar tentang perihal ini. Ketika briefing?
    Tidak. Walaupun ingatan dia buruk, tapi Batman masih mengingat dengan jelas hari-hari itu.
    Memulai semua dalam sekian jam jelas tidak mungkin. Semua harus berjalan paling tidak sebulan penuh untuk mempertahankan detail.
    Kali ini Batman pasrah…
    Dia dapat kembali ke Gotham City tanggal 16 atau tidak…
    Oh Batman
    Are you lost in pollution?
    Oh Batman
    Are you somewhere in my soul
    Oh Batman
    Are you nothing but a notion
    Oh Batman
    Where do we go?