it’s because i feel this way

TULisan ini ditulis hari Rabu pagi pukul 02.30 am.

Malam ini—ehm, rasanya demi menghindari kesamaan lirik dengan Ahmad Dani si pria arogan, saya akan mengganti keterangan waktunya dengan ‘pagi ini’ saja. Pagi ini, di tengah2 kesibukan mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai akibat terlalu banyak chating dan membuat bulbo di friendster, sekelebat pikiran bertengger di benak saya.

Sebenarnya ini tidak penting, dan tidak perlu dipermasalahkan, tapi mungkin akibat hasrat kesensitivan saya sebagai perempuan, atau lebih tepatnya akibat hasrat mendramatisasi segala hal yang sudah menjadi bakat saya sejak dini , hal tersebutpun dengan manis masih saja menjadi jawara di antara deretan top ten beban pikiran saya.

Percayalah, saya sudah berusaha menyingkirkannya, tapi rasanya kenapa begitu sulit yah????

Anyway, ini diawali dari sebuah percakapan ringan berbumbu nostalgia yang terjadi di antara saya, ibu mertua dan si adik ipar. Saat itu kami tengah mengobrol mengenai masa2 kecil setiap anggota keluarga suami saya. Percakapan pun  menjadi seru ketika sang ibu mertua menunjukkan album foto jaman dahulu kala sebagai bukti penguat ceritanya.

Tentu saja saya dengan senang hati melihat satu persatu foto yang ada di album demi mengetahui bagaimana rupa suami saya dan keluarga baru saya itu di masa lampau. Foto demi foto saya perhatikan. Lalu muncullah wajah yang saya kenal, meski tidak begitu serupa, tapi wajah tersebut sangat saya kenal, hanya saja wajah yang terpampang di foto terlihat jauh lebih muda. Saya buka lagi foto foto selanjutnya, dan wajah tersebut masih terlihat nampak pada foto-foto tersebut. Dengan senyum yang sama, raut muka yang sama, dan ekspresi yang terlihat akrab sekali dengan anggota keluarga suami saya itu.

Perut saya terasa mulas saat itu (rasa yang sama seperti saat saya membuat tulisan ini).

Yah, tak salah lagi. ITU adalah DIA. Wajah orang yang sempat membuat saya sakit dengan panggilan “Sampah” nya terhadap saya. Wajah orang yang sebenarnya tak pernah saya temui atau saya kenal, tapi sangat akrab di benak saya. Wajah yang saya tahu, pernah menjadi satu2nya wajah yang di damba oleh suami. Ya itu wajah mantan kekasih suami saya. (oh, rasanya saya merasa konyol membuat dan overly dramatic membuat tulisan ini)

Seketika saya langsung bertanya pada suami, dia tidak mau menjawab, hanya tersenyum,lalu berlalu pergi mengurus suatu keperluan. Dan tinggallah saya, mendengarkan tutur cerita Ibu Mertua dan si Adik Ipar mengenai si pemilik wajah.

Terungkaplah bahwa, si pemilik wajah memang tadinya merupakan bagian dari keluarga yang memang sungguh sudah dianggap seperti saudara. Cerita-cerita nostalgia pun mengalir lancar dari Ibu dan Adik baru saya itu. Mengenai sifat-sifat mantan kekasih suami saya itu, mengenai hal-hal lucu ataupun menyedihkan yang dialami keluarga itu dengannya, mengenai cara suami saya bisa menjalin hubungan dengannya, dan segala kisah menarik nan romantis (segala yang berbau nostalgia pasti menjadi romantis

kan

?)yang terjadi di antara mereka.

Saat itu saya sepenuhnya mendengarkan, sambil sesekali memberikan komentar untuk cerita2 yang sekiranya menarik dan pantas dikomentari.

Tapi jujur, rasanya perut saya perih sekali saat itu. Lebih perih dibanding ketika saya harus menjalankan puasa tanpa sahur terlebih dahulu. Rasanya seperti diiris-iris dengan pisau tumpul yang semu. Semu saya bilang, karena seharusnya saya tidak perlu memikirkan hal-hal yang sudah lampau. Tumpul, Karena seharusnya kenangan masa lalu itu tidak perlu berpengaruh pada kondisi hati saya di masa sekarang, di mana sya sudah menjadi seorang istri bagi suami saya.

Sekali lagi tapi, saya toh hanya manusia biasa. Atau tepatnya saya hanya sosok perempuan yang sering kali sensitive, dan senang memikirkan hal tak perlu. Maka saya pun tetap merasakan sakit mendengarkan semua cerita itu, dan tetap merasa perlu memikirkan semua itu. Tidak, saya tidak merasa sakit bukan karena cerita2 itu. Tapi saya merasa sakit karena sesungguhnya saya tak pernah ingin  mendengar cerita cerita masa lalu itu, apa lagi melihat foto-foto nostalgia itu di tempat yang sekarang ini seharusnya menjadi rumah saya.

Saya merasa sakit, karena sungguh saya tak pernah mau mengingat-ingat bahwa mantan kekasih suami saya, yang dulunya satu-satunya orang yang suami saya cintai itu, tinggal tepat di sebelah rumah itu, dan tadinya merupakan bagian dari keluarga baru saya itu.

Saya sakit, Karena saya takut hal yang paling saya takutkan terjadi. Bahwa saya tengah menggantikan posisi seseorang. Dan saya lebih sakit lagi saat mengetahui bahwa ternyata panggilan untuk perempuan itu ,sama persis dengan panggilan kucing kesayangan keluarga itu.(Mungkin tidak ada hubungannya, tapi saya memang orang yang suka sekali menghubung2kan segala hal, jadi harap dimaklumi). Saat itu saya ingin menangis, tapi rasanya bodoh sekali harus menangisi hal bodoh seperti itu, akhirnya saya pun batal menangis (padahal seharusnya saya menangis saja, supaya saya tidak perlu membuat tulisan bodoh ini dan mempermalukan diri saya).

Anyway, lebih dari semua itu, sayapun merasa bingung sekali. Sudah kodrat perempuan untuk menyalahkan sesuatu atau seseorang, saat sesuatunya menjadi salah. Tapi dalam posisi saya ini, siapa yang bisa saya salahkan. Saya tidak mungkin menyalah

kan

ibu mertua ataupun adik saya, dan saya pun TAK MAU menyalahkan mereka. However, saya mulai menyayangi mereka, dan kalau mereka sedang ingin bernostalgia, apakah saya pantas melarang?Lagi pula, entah kenapa saya merasakan suatu nada penuh cinta tiap kali ibu mertua bercerita tentangnya, apa saya pantas merasa cemburu? Rasanya tidak. Adalah haknya untuk mencintai siapapun, atau bernostalgia tentang apapun.

Lalu kepada siapa harus mengeluh, rasanya ingin sekali mencurahkan semua “beban di dada ini”(saya beri tanda kutip karena saya tahu kata2 itu konyol sekali). Sebelum menikah, saya pernah punya bayangan, atau tepatnya cita-cita, bahwa saya akan mengkomunikasikan segala hal, masalah kepada suami saya. Karena sudah sejak lama saya menginginkan punya kehidupan rumah tangga yang terbuka, di mana pasangan bisa menjadi tempat saya mencurahkan segala hal. Tapi untuk hal ini, rasanya saya kok enggan bercerita padanya. Saya takut bila saya bercerita maka ia akan merasa bahwa saya menyalahkan keluarganya, lalu dia pun akan mengeluhkan hal yang sama pada keluarganya, dan masalahpun menjadi panjang.

TIDAK. Saya tidak ingin itu terjadi, karena sayapun tidak menyalahkan keluarganya untuk hal ini.

Tapi rasanya dada saya masih sesak, dan perut saya masih terasa perih (Ah, mungkin saya saja yang sedang masuk angin, dan kelaparan – Mari kita anggap saja begitu,shall we?)

Atau mungkin untuk mudahnya, saya anggap saja bahwa menikahi seseorang itu sama dengan menikahi masa lalunya… (is that so???))

You know what, the funniest part adalah ketika all the said and done is over, ibu mertua mengucapkan maaf berkali kali kepada saya. Hmm… apa dia bisa membaca pikiran saya yah..

*Aaaaarrrggghhhh.. rasanya saya jadi ingin bakar foto-foto itu

January 22nd, 2008 at 6:20 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Seorang sahabat menanyakan sesuatu kepada saya. "Aktivitas pagi lo gimana, bu?" Begitu kira-kira pertanyaannya.
Dan jawaban saya kira-kira seperti ini"Yah, biasanya diawali dengan saling ngebangunin, nyuruh mandi duluan, sampai akhirnya ditriakin dari bawah sama nyokapnya, buat mandi"
Jawaban yang teramat jujur, secara memang itulah aktivitas pagi saya setiap hari di rumah baru saya (rumah mertua maksudnya).

Teman saya itu terheran-heran, dia bertanya mengapa sya tidak bangun tidur sebelum suami saya lalu menyediakan minuman untuknya. Menurutnya, begitulah cara ia dibesarkan di lingkungan keluarganya, di mana perempuan harus bisa melayani laki-laki seperti itu.
Saya pun jadi teringat pada ibu saya. DIa juga biasa melayani Bapak saya dengan demikian, menyediakan minuman di pagi hari dan sore hari saat Bapak saya pulang. Menyisakan makanan khusus untuk Bapak saya, lalu menyediakannya, dan bahkan menyediakan air hangat tiap kali Bapak saya mandi.
Sebuah tugas yang mulia,bila dijalani dengan ikhlas if i may say.
Dan to be honest, setelah perbincangan dengan teman saya itu, sayapun jadi berpikir untuk melakukan hal serupa bagi suami saya. Rasanya ingin juga merasakan bagaimana rasanya melakukan bakti terhadap suami yang seperti itu. Dan lagi pula, menurut teman saya, lumayaan juga untuk mendapatkan pujian dari suami dan mertua (siapa sih yang tidak mau dipuji mertua dan suami?heheehe)

Sekedar referensi, sayapun menanyakan perihal tersebut kepada teman saya yang lain, dan menurutnya, menyediakan minum untuk suami, adalah sama artinya dengan berlipat lipat pahala bagi kita. Dan hari gini, siapa juga sih yang tidak mau pahala..

Dan tibalah malamnya.
Saya sudah memikirkan apa-apa saja yang bisa saya lakukan di pagi hari. Mulai dari mencoba bangun satu jam lebih pagi, lalu sekedar membantu bantu sang ibu mertua sebisanya, sampai dengan menyediakan minum dan sarapan bagi suami.
Saking seriusnya saya memikirkan rencana pagi hari, saya sampai tidak perduli dengan suami yang kelihatannya sedang dalam mood romantis (tahulah maksud saya), memilih menonton sinetron yang saya tidak seriusi, dan lalu tertidur tanpa mau dipeluk olehnya.
Rsanya saya butuh konsentrasi penuh malam itu.

DI pagi harinya, setelah tidur dengan perasaan gelisah menanti pagi tiba, saya pun bangun dengan cepat(meski hanya sepuluh menit lebih cepat), tanpa ada perasaan ngantuk dan malas seperti biasanya.
Langsung saya turun ke dapur, membereskan piring -piring kotor, dan mencuci piring -piring tersebut.
Pada saat itu saya semestinya sudah harus bersiap-siap diri untuk ke kantor, tapi saya tidak perduli.
Saya terus menjalankan rencana saya sejak semalam tadi.

Selanjutnya tibalah di hal nomer satu yang ada dalam sketsa rencana say, menyediakan minuman bagi suami. Saya berencana menyediakan minuman tepat di samping tempat tidur, saat suami masih terlelap. Terbayang di benak saya akan satu iklan kopi waktu saya masih sekolah. Dalam benak saya, suami yang terlelap akan terbangun oleh aroma sedap kopi yang saya sediakan di sampingnya.
membayangkannya, sayapun jadi tersenyum2 sendiri.

Saya pun membuat minuman, karena suami tidak suka kopi di pagi hari, saya pun membuatkan teh.
Saya letakkan di sampingnya beserta sepiring donat hasil buatan ibu nya (of course saya tidak akan punya waktu untuk membuat donat pagi-pagi begitu kan?)
Suami saya masih saja tertidur pulas. Hati saya berkta"kok tidak ada adegan dia terbangun karena aromanya yah". Ah, mungkin aroma teh memang tidak senikmat aroma kopi, begitu saya pikir.
Saya pun membangunkannya, dia terbangun dengan malas dan masih berkantuk2.
Dan guess what, dia masih  tak sadar akan teh dan donat yang saya sediakan untuknya.
Saya pun mencoba memberikan petunjuk dengan menyarankannya untuk sarapan dulu sebelum mandi. DIa pun masih mengacuhkan teh dan donat tersebut, in fact dia malah meminta saya memeluknya.
Saya mencoba menyodorkan teh dan donat lebih dekat kepadanya, dan dia masih saja mengacuhkan mereka. Hati saya merasa nelangsa sekali, persis dengan kondisi teh dan donat yang di acuhkan itu.
Tidak tahan lagi, sayapun berkata "Kamu kok, gak minum teh dan gak makan donatnya seh? ITu kan aku sediain buat kamu!!!!!!"
Percaya atau tidak ,saya hampir merajuk saat mengatakan itu kepadanya.
Suami saya yang "polos" itu pun tertawa, dan pada akhirnya mau juga menyesap teh dan memakan secuil donatnya.
Well, dalam hati saya tahu, teh tersebut rasanya pasti tidak enak,mengingat saya tidak memberi banyak gula (suami saya sedang sakit gigi). dan saya yakin donat tersebut tidak seenak kelihatannya bagi suami saya, mengingat giginya yang sedang sakit membuatnya tak bisa mengunyah dengan baik.

AKhirnya saya pun mengalah, tak lagi memaksanya mengkonsumsi teh dan donat tersebut.Karena rasanya saya jadi merasa bersalah.
Dan mungkin suami saya pun merasakan hal yang sama, karena setelah itu, dia pun memeluk saya dengan hangat, hingga pada akhirnya kami memulai pagi itu dengan pelukan, kecupan romantis,dan kata kata romantis yang berlanjut hingga….. (yah, anda pasti tahulah apa yang terjadi selanjutnya…)

Pagi itupun menjadi salah satu pagi terindah bagi saya dan suami, meski akhirnya kami berdua harus telat sampai di kantor.

As for me, saya merasa harus berterimakasih pada teman saya itu, mengingat atas pertanyaannya lah saya mengalami pagi indah itu.
Next time, i may serve the tea naked, mungkin hasilnya lebih memuaskan lagi, hahahaha..!!!!

January 22nd, 2008 at 3:51 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

dari awal menjalani hubungan ini dengannya, saya sudah tidak mau mendengar hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya .

saya tidak ingin mendengar kisah2nya dengan orang-orang yang pernah hinggap di hatinya sebelum saya

saya tidak pernah ingin bertanya apa saja yang ia lakukan di masa lalu .

saya juga tak ingin mengetahui berapa kali dia menjalin cinta di masa lalunya.

alasannya cuma satu;menghindari konflik.

saya tidak ingin menjadi cemburu buta, atau terpaksa memikirkan bahkan membanding2kan diri saya dengan para mantan kekasihnya .

terlebih lagi, saya tidak mau merasa menggantikan posisi seseorang, sehingga menjadi terbebani untuk menjadi pengganti yang lebih baik.

tapi kemajuan jaman memaksa saya untuk mengingkari keinginan saya itu.

tekhnologi website bernama friendster, membuat saya jadi tahu yang mana saja mantan2 kekasihnya.

dan "memaksa" saya untuk mengintip seperti apa para mantannya. pada akhirnya membuat saya sibuk menjelajahi friendlist kekasih saya itu, dan mem"view" satu2 perempuan yang pernah hinggap di hatinya

tak sekedar melihat, sayapun menelitinya.

membaca testimoni kawan2 para si mantan, sekedar untuk mengetahui seperti apa watak si mantan, juga untuk mencari testimoni2 yang dikirim oleh kekasih saya itu, kepada mantan2nya

memperhatikan satu demi satu foto si mantan, sekedar untuk mengetahui secantik atau sekeren apa si para mantan

membaca kolom about me atau bahkan membaca satu demi satu blognya, hanya ingin mencoba mengetahui bagaimana si mantan bertutur.

dan segala kelakuan mengintip kehidupan orang lain yang pada akhirnya membuat saya malah menjadi semakin jauh membandingkan diri dengan mantan2nya

saya bahkan sempat bertengkar dengan kekasih saat saya membaca testimoni nya kepada mantannya yang isinya berbau kemesraan ah. padahal itu tolol sekali..

dan mengetahui bahwa mantan dari kekasih saya yang dulu paling dicintai oleh kekasih saya itu ternyata tetangga dekat kekasih saya itu, saya makin merasa "tertekan" dan saat si mantan (yang sudah saya add di friendlist saya) tiba2 memposting sesuatu yang berkenaan dengan "mantan gue masih sayang ama gue tuh", saya pun ada dalam puncak rasa tertekan saya..

lalu siapa sangka kalau ternyata justru si mantan itulah yang menghapus saya duluan dri friendlistnya, yang belakangan baru saya tahu kalau dia benci pada "hujan bulbo"saya yang sibuk menceritakan betapa saya mencintai mantan kekasihnya

(sungguh saya takbermaksud pamer)

hahhhhh!!!!

saya pun merasa menang, rupanya dia lebih merasa tertekan di banding saya…

lalu saya jadi berpikir lagi, sungguh sebuah perang pepesan kosong, bila masa lalu diributkan sampai sedemikian rupa

so, ada mantan yang mau sibuk sok pamer??? silahkannn

December 2nd, 2007 at 10:39 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Keinginannya sederhana saja. CUma mau setiap hari bangun di sisinya.
CUma mau wajahnyalah yang pertama dilihat setiap pagi
CUma mau mengawali tiap pagi dengan senyum jenakanya, dan kecupan hangat di kening yang memberikan semangat
CUma itu saja.

Harapannya tidak banyak. CUma mau setiap malam tertidur dalam pelukan hangatnya.
Cuma mau merasakan hangatnya nafas lembut itu di tengkuk, saat dia merangkul erat
Cuma mau menikmati malam dengan diselimuti tubuhnya

Maunya tidak berlebihan
Cuma tak ingin melepaskan aroma tubuhnya yang menjadi candu di setiap detik
Cuma tak ingin melepaskan sentuhan kulitnya di kulit yang menghamba dirinya ini
Cuma tak ingin melepaskan setiap dari dirinya

Khayalannya tidak tinggi
Hanya ingin bersamanya
Hanya ingin mencintainya
Hanya ingin menjadi miliknya

TUjuannya tidak membumbung,
hanya ingin melabuhkan hati di dirinya,
dengan seluruh darah, jiwa dan raga yang dipunya

November 16th, 2007 at 1:37 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Spend all your time waiting
For that second chance
For a break that would make it okay
There’s always one reason
To feel not good enough
And it’s hard at the end of the day
I need some distraction
Oh beautiful release
Memory seeps from my veins
Let me be empty
And weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

In the arms of an angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort there

So tired of the straight line
And everywhere you turn
There’s vultures and thieves at your back
And the storm keeps on twisting
You keep on building the lie
That you make up for all that you lack
It don’t make no difference
Escaping one last time
It’s easier to believe in this sweet madness oh
This glorious sadness that brings me to my knees

In the arms of an angel
Fly away from here
From this dark cold hotel room
And the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage
Of your silent reverie
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort there
You’re in the arms of the angel
May you find some comfort here

November 12th, 2007 at 6:08 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Hari ini otak saya penuh
Penuh sekali hingga hampir luber.
Dan yang saya pikirkan cuma dia
OTak saya penuh oleh nya

HHHH… rasanya saya butuh pemecah kacang untuk memecahkan otak saya
SUpaya bayangnya tidak lagi bertengger di kepala.

Hayyoooo, kamu si penguasa jiwa hati otak dan tubuh saya!
Pergi sana!
Karena saya tidak bisa kerja,tak bisa tidur dan tak bisa makan.

Hayooo kamu si pemilik senyuman lucu, mata misterius dan pelukan hangat
Kalau kamu tidak bisa pergi, segeralah kemari dan peluk saya,

Tapi ingat, jangan lepas lagi setelah itu
Karena saya bisa gila

November 8th, 2007 at 10:07 pm | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Saya tidak ingin menyimpannya selamanya, saya sudah menghapusnya.

Kamu harus tahu itu

Saya tidak ingin digantungi selamanya, saya sudah memotongnya.

Kamu mestinya lebih tahu itu

Saya tidak memilihnya, saya memilihmu

Kamu pasti tahu alasannya

Dan sekarang kalau kamu masih meributkan segala sampah peninggalan yang tercecar itu,saya rasa kamu bodoh

Karena saya tak pernah punya niat untuk memungutnya lagi lalu menjadikannya koleksi

Dan sekarang kalau kamu mencoba menggunakan pisau lamamu untuk menusuk hati saya,saya rasa kamu jahat

Karena pisau tumpul itu lebih menohok ke dalam hati saya dan meninggalkan luka yang lebih besar..

Saya sudah mempersembahkan hati saya yang rusak ini untukmu, dengan segala pengabdiannya.

Dan bila sekarang kamu mulai muak dan hendak membuangnya kembali, kamu sudah menghancurkan saya

November 5th, 2007 at 1:38 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

I have tried hard
Times and times until i was weak
Again and again until i bleed
Over and over until i was aching
So you can’t say i didn’t do my effort

I did my effort hard
To be there when you were uncare
Keep my footsteps, when you yelled
Hanged on that fragile truth, when you shoved
So you can’t say that I didn’t hold on

I’ve hold on very hard
Stood still when everything was in beauty
Crawling when the storm strangled
And forcedly creeping when the thunder fiercely sucked me in
So you can’t say I didn’t love

I have loved so much
Adored your smile that came mocking me
Worshiply stared your always disappearing figure
Bended on my knee, kissed your feet which repeatedly jerked on me
So you can’t say i didn’t sacrifice

I have sacrificed a lot
Gave my heart to be grasped
Bestow my self to be dumped
And granted my times to be abandoned
So you just really can’t say

Now i have to go, have to fly
So let me dancing, let me running
Embracing the blanket of true happiness
Though this piece of heart stays here
Become the phony gravestone of my devotion, to you

October 16th, 2007 at 1:31 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

This is me….

hunny
aku cinta banget ama kamu
janji yah jangan tinggallin aku
juga janji kalo kamu gak bakal ngurangin cinta kamu ke aku
janji gak bakal pergi kalau marah ma aku
janji kalau kamu gak bakal berhenti ada di sini saat kamu bosan
janji-janji-dan janji yah

pokoknya aku bisa mati deh tanpa kamu

aku cinta banget ma kamu
dan ini bukan cinta buta, cinta nafsu,cinta gila, apa lagi cinta monyet

karena aku cinta kamu lebih dari kata cinta itu sendiri

This is you…

dear my hunny bunny,
entah kenapa aku juga ndak tahu, mungkin memang cinta itu tidak bisa ditebak dan tidak bisa ditolak, juga tidak bisa dihindar,
entah kenapa juga dulu kita acuh, gak tahunya sekarang menjadi pasangan yang sangat lengket (mudah2an tetep lengket ampe 50 thn kedepan). Dan entah kenapa sepertinya bersamamu itu terasa damai, nyaman, dan selalu ingin melindungimu.
aku akan katakan pada semuanya , pada dunia dan pada alam sana kalau aku memang amat sangat mencintaimu dan menyayangimu…aku ingin mempunyai keturunan dari kamu…dan ingin merasakan tua renta bersamamu…

Aku tahu, kamu pun tahu, kita berawal dari kekurangan satu sama lain, tetapi itu semua hilang dan musnah dengan kekuatan cinta kita….dan aku akui itu…i love u  so…

So this is us,

September 16th, 2007 at 7:32 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Seems like it was yesterday when I saw your face.You told me how proud you were but I walked away.If only I knew what I know today
I would hold you in my arms.I would take the pain away.Thank you for all you’ve done.Forgive all your mistakes
There’s nothing I wouldn’t do.To hear your voice again.Sometimes I want to call you.But I know you won’t be there

OOh, I’m sorry for blaming you.For everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself, by hurting you.

Somedays I feel broke inside but I won’t admit.Sometimes I just want to hide, cause it’s you I miss.And it’s so hard to say goodbye
When it comes to this

Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?

There’s nothing I wouldn’t do.To have just one more chance
To look into your eyes.And see you looking back

If I had just one more day,I would tell you how much
That I’ve missed you since You’ve been away.
Oooh, It’s dangerous,so out of line to try and turn back time…

September 4th, 2007 at 7:25 pm | Comments & Trackbacks (0) | Permalink